Dalam melindungi serta meningkatkan keamanan siber Ukraina, pemerinta sebelumnya minta tolong kepada para hacker. Kini para hacker tersebut tampaknya telah memulai aksinya dalam melindungi siber pemerintah Ukraina.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 25 Februari 2022 - 14:06 WIB
WowKeren - Pemerintah Ukraina sebelumnya disebut minta tolong ke para peretas atau hacker dalam melawan invasi Rusia. Pemerintah Ukraina disebut meminta sukarelawan untuk membantu mereka dalam menjaga infrastruktur penting dan melakukan misi mata-mata dunia maya terhadap pasukan Rusia.
Kini, sebuah kolektif peretasan internasional diketahui telah melakukan serangan siber terhadap pemerintah dan perusahaan. Hal ini tampaknya menunjukkan bahwa mereka menyatakan perang terhadap Presiden Vladimir Putin dan Rusia atas invasinya ke Ukraina.
Sebuah akun Twitter yang memiliki user name @YourAnonNews tampak membuat pernyataan pada Kamis (25/2), dengan mengatakan bahwa kelompok peretas "saat ini terlihat dalam operasi melawan Federasi Rusia".
"Kami ingin orang-orang Rusia memahami bahwa kami tahu sulit bagi mereka untuk berbicara menentang diktator mereka karena takut akan pembalasan," tulis akun yang memiliki 6,5 juta pengikut itu. "Kami, sebagai kolektif hanya menginginkan perdamaian di dunia. Kami menginginkan masa depan bagi seluruh umat manusia."
"Jadi, sementara orang-orang di seluruh dunia menghancurkan penyedia internet Anda hingga berkeping-keping, pahamilah bahwa itu sepenuhnya diarahkan pada tindakan pemerintah Rusia dan Putin," lanjut pernyataan peretas.
Sementara itu, outlet media yang didanai pemerintah Rusia yakni RT.com, yang digambarkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) sebagai elemen penting dalam "ekosistem disinformasi dan propaganda Rusia" itu mengatakan bahwa hal tersebut ditargetkan dalam aa yang tampaknya menjadi penolakan layanan (DDoS) yang meluas, menyerang.
Sebagai informasi, serangan DDoS adalah upaya terkoordinasi untuk membuat situs web offline dengan membanjirinya dengan lalu lintas. Situs web untuk parlemen rendah Kremlin dan Duma Negara bagian juga kadang-kadang tidak tersedia pada Kamis (25/2), yang kemungkinan disebabkan oleh serangan DDoS.
Sementara itu, salah satu pendiri perusahaan keamanan siber di Kyiv, mengatakan kepada outlet berita bahwa sukarelawan ofensif akan melakukan spionase digital terhadap pasukan Rusia. Sementara sukarelawan defensif akan membantu melindungi infrastruktur negara.
Pada Kamis (25/2), beberapa situs web pemerintah Ukraina diketahui terkena serangan DDoS saat pasukan Rusia beringsut lebih dekat ke Kyiv. Di sisi lain, menurut seorang pejabat keamanan dalam negeri FOX Business, pemerintah AS juga bersiap menghadapi potensi serangan siber terhadap lembaga keuangan negara.
(wk/tiar)