Kunjungan seorang paus ke kedutaan untuk berbicara dengan seorang dubes di saat konflik belum pernah terjadi sebelumnya. Paus Fransiskus berada di sana sekitar 40 menit.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 26 Februari 2022 - 07:58 WIB
WowKeren - Paus Fransiskus pada Jumat (25/2) nekat pergi ke Kedutaan Besar Rusia untuk menyampaikan rasa prihatin atas invasi Rusia ke Ukraina. Juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan Paus berada di sana hingga lebih dari setengah jam.
Duta besar Aleksandr Avdeyev mengatakan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa pertemuan itu berlangsung sekitar 40 menit. Adapun kunjungan seorang paus ke kedutaan untuk berbicara dengan seorang duta besar di saat konflik belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada 14 Februari, sebelum invasi, duta besar Ukraina untuk Vatikan, Andriy Yurash, mengatakan Kyiv akan terbuka untuk mediasi konflik oleh Vatikan. Beberapa jam setelah bertemu dengan duta besar, paus menelepon Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk, pemimpin umat Katolik ritus Timur Ukraina.
Sviatoslav telah bersumpah untuk tidak meninggalkan Kyiv. Ia juga telah membuka ruang bawah tanah katedralnya sebagai tempat perlindungan bom. "Saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk membantu," kata Paus kepada Uskup Agung.
Invasi Rusia tengah menjadi perhatian dunia saat ini. Bahkan Presiden Tiongkok Xi Jinping turut menanggapi. Ia segera menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin di hari yang sama. Media pemerintah CCTV mengatakan jika situasi di Ukraina timur telah mengalami perubahan yang cepat. "Tiongkok mendukung Rusia dan Ukraina untuk menyelesaikan masalah melalui negosiasi," lapor media tersebut.
Namun, Jinping sangat berhati-hati untuk tidak menyebut aksi Rusia ke Ukraina itu sebagai invasi. Ia juga menolak untuk mengutuk tindakan Rusia yang merupakan sekutu dekatnya.
"Penting untuk meninggalkan mentalitas Perang Dingin, mementingkan dan menghormati masalah keamanan yang wajar dari semua negara," kata Jinping dalam panggilan telepon itu. "Dan membentuk mekanisme keamanan Eropa yang seimbang, efektif dan berkelanjutan melalui negosiasi."
Masih menurut CCTV, Putin pada dasarnya bersedia melakukan negosiasi tingkat tinggi dengan Ukraina. Justru Amerika Serikat dan NATO lah yang telah lama mengabaikan masalah keamanan yang wajar.
"Mereka berulang kali mengingkari komitmen mereka," kata Putin. "Dan terus memajukan penempatan militer ke timur, menantang garis bawah strategis Rusia."
(wk/zodi)