Banyak korban di Ukraina yang telah berjatuhan imbas dari invasi penuh oleh Rusia. Seperti yang diketahui, Rusia telah meluncurkan serangan sejak Kamis (24/2) lalu.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 01 Maret 2022 - 09:01 WIB
WowKeren - Serangan demi serangan tampaknya masih terus diluncurkan oleh Rusia terhadap Ukraina. Atas serangan ini pun diketahui telah memakan banyak korban. Sementara itu, Ukraina juga terus berjuang dalam menghadapi serangan dari Rusia.
Pada Senin (28/2), Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) melaporkan setidaknya ada 406 korban sipil yang dilaporkan oleh Ukraina atas serangan dari Rusia. 102 Orang di antaranya merupakan korban tewas hanya dalam beberapa hari terakhir.
Mengenai angka korban tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Martin Griffiths. Griffiths diketahui berbicara kepada Dewan Keamanan PBB melalui telekonferensi dari Jenewa pada Senin (28/2), mengatakan bahwa jumlah sebenarnya korban sipil "bisa jauh lebih tinggi, karena banyak korban yang dilaporkan belum dikonfirmasi."
"Gambarannya suram dan bisa lebih buruk lagi," tutur Griffiths, dikutip pada Selasa (1/3). "Serangan udara dan pertempuran di daerah perkotaan merusak fasilitas sipil yang penting dan mengganggu layanan penting seperti kesehatan, listrik, air dan sanitasi, yang secara efektif membuat warga sipil tidak memiliki kebutuhan dasar untuk kehidupan sehari-hari."
Di sisi lain, kata Griffiths, upaya kemanusiaan di lapangan saat ini ada 119 organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Ukraina, meskipun kapasitas mereka untuk memberikan bantuan terbatas karena aksi militer. Kemudian ia juga menyerukan "jaminan dari pihak-pihak yang berkonflik bahwa pekerja dan gerakan kemanusiaan akan dilindungi bahkan selama hari-hari konflik yang paling parah dan tidak menunggu konflik mereda."
Dalam kesempatan yang sama, Griffiths juga mengumumkan bahwa Sekretaris Jenderal PBB akan meluncurkan seruan kemanusiaan pada Selasa (1/3), dengan dua komponen yakni "Permohonan Flash" selama tiga bulan untuk sumbangan bagi situasi di dalam Ukraina. Serta sebuah "Rencana Respons Pengungsi Regional" untuk situasi di luar Ukraina, di bawah kepemimpinan Komisaris UNHCR Filippo Grandi dan kantornya.
Sementara itu, Walikota Kharkiv, Ihor Terekhov mengatakan setidaknya ada sembilan warga sipil tewas akibat serangan roket Rusia pada Senin (28/2), di kota Kharkiv, Ukraina. "Hari ini kami mengalami hari yang sangat sulit. Ini menunjukkan kepada kami bahwa ini bukan hanya perang, ini adalah pembantaian rakyat Ukraina," tutur Terekhov dalam keterangan tertulis.
"Rudal-rudal itu menghantam bangunan tempat tinggal, membunuh dan melukai warga sipil yang damai," beber Terekhov. "Kharkiv sudah lama tidak melihat kerusakan seperti itu. Dan ini mengerikan."
Terekhov mengungkapkan bahwa 4 orang korban tewas itu keluar dari tempat penampungan untuk mengambil air dan kemudian serangan datang. Kemudian ada sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang dewasa dan tiga anak dibakar hidup-hidup di dalam mobil mereka, dan 37 orang lainnya terluka.
(wk/tiar)