Jadi Alternatif Transaksi di Tengah Perang, Mampukah Kripto Bantu Rusia Hindari Sanksi Ekonomi?
pixabay.com/Ilustrasi/MichaelWuensch
Dunia

Beberapa orang Ukraina telah beralih ke kripto sebagai alternatif untuk lembaga keuangan Ukraina, yang membatasi akses orang ke rekening bank dan mata uang asing.

WowKeren - Mata uang kripto semakin mendulang popularitas akhir-akhir ini. Bahkan selama konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, jutaan dolar bantuan untuk rakyat Ukraina telah mengalir dalam bentuk kripto.

Washington Post menyebutkan bahwa pertempuran antara Rusia dan Ukraina adalah "perang kripto pertama di dunia" karena kedua belah pihak menemukan keuntungan dari mata uang tanpa batas dan tanpa izin.

Sejumlah orang di Ukraina beralih ke bitcoin karena kepanikan perang menguras ATM di negara itu. Dalam satu kasus, mata uang Satoshi telah digunakan oleh wartawan Denmark untuk membeli mobil dan melarikan diri dari negara itu.

Beberapa orang Ukraina juga beralih ke kripto sebagai alternatif untuk lembaga keuangan Ukraina, yang membatasi akses orang ke rekening bank dan mata uang asing. Kripto telah menjadi bagian yang lebih utama dari sistem keuangan global, yang mana itu artinya kripto juga menjadi bagian dari konflik internasional.

Dalam skenario di mana pemerintah berada dalam kekacauan, sulit untuk mengandalkan bank tradisional, dan ada ketakutan akan pengawasan. Sehingga sistem yang relatif anonim di mana tidak ada pemerintah yang terlibat bisa menjadi opsi.

"Fakta bahwa itu tidak dapat dibekukan, fakta bahwa itu tidak dapat disensor, dan fakta bahwa itu dapat digunakan tanpa ID sangat, sangat penting," kata Alex Gladstein, chief strategy officer di Human Rights Foundation kepada Recode. "Dan itulah mengapa bitcoin adalah alat kemanusiaan yang sangat penting."

Para ahli memperkirakan Rusia dan para pemimpinnya akan beralih ke kripto sebagai cara untuk menghindari sanksi ekonomi yang menumpuk pada mereka. Namun, analis mata uang kripto mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mata kripto tidak akan bisa membiarkan Rusia terhindar dari rentetan sanksi yang ditujukan.


Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa dan Kanada mengumumkan sanksi baru pada hari Senin, kali ini menargetkan bank sentral Rusia dan dana kekayaan nasional. Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa itu membatasi kemampuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menggunakan cadangan devisa negara sebesar 630 miliar dolar AS.

Ekonomi Rusia sudah terombang-ambing pada hari Senin (28/2). Betapa tidak, rubel jatuh ke titik terendah sepanjang masa, belum lagi bank sentral yang menaikkan suku bunga utamanya menjadi 20 persen, hingga bursa saham yang tetap tutup. Iran dan Korea Utara sama-sama menggunakan kripto, yang beroperasi di luar batas sistem keuangan, untuk menghindari sanksi.

"Kripto dapat digunakan untuk menghindari sanksi dan menyembunyikan kekayaan," kata Roman Bieda, kepala investigasi penipuan di Coinfirm, platform manajemen risiko blockchain, kepada Al Jazeera.

Kendati demikian, kasus Rusia berbeda. Pasalnya, negara tersebut memiliki ruang gerak yang lebih sedikit karena skala pukulan ekonomi dan adopsi mata uang digital yang terbatas. Ari Redbord dari TRM labs, sebuah perusahaan intelijen blockchain, mengatakan bahwa tidak seperti Korea Utara, Venezuela, dan Iran, Rusia telah mendarah daging dalam sistem keuangan global selama beberapa dekade.

"Sangat sulit untuk memindahkan sejumlah besar kripto dan mengubahnya menjadi mata uang yang dapat digunakan," kata Redbord. "Rusia tidak dapat menggunakan kripto untuk menggantikan ratusan miliar dolar yang berpotensi diblokir atau dibekukan."

Sementara itu tahun lalu, orang-orang di zona konflik utama dunia beralih ke mata uang kripto seperti bitcoin karena nilai yang melonjak dan dukungan investor super kaya membuatnya lebih menarik. Pencarian online untuk bitcoin, ethereum, dan dogecoin telah meningkat di Libya, Suriah, dan Palestina.

Publisitas seputar mata uang digital generasi baru telah menyebar ke seluruh dunia sejak pandemi melanda. Itu artinya, pengguna juga melihat mereka sebagai cara untuk meminjam ketika bank enggan meminjamkan uang. Analisis oleh TradingView, menemukan bahwa negara-negara yang berada di peringkat bawah Indeks Kebebasan Manusia, atau yang secara politik bergolak karena alasan lain, muncul di 10 negara teratas untuk pencarian mata uang digital online.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait