Sejak kudeta berlangsung pada 2021 tahun lalu, militer Myanmar telah bersikap kasar dengan menangkap dan tak segan membunuh para aktivis atau kelompok-kelompok yang melawannya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 22 Maret 2022 - 13:18 WIB
WowKeren - Ratusan anak tak berdosa pun diketahui telah ditahan oleh militer Myanmar sejak merebut kekuasaan, dengan banyak yang ditahan oleh tentara dan polisi yang berusaha menangkap kerabat mereka. Hal ini disampaikan oleh seorang menteri dari Pemerintah Persatuan Nasional negara tersebut.
Sementara itu, Menteri Perempuan, Pemuda dan Anak di NUG, Naw Susanna Hla Hla Soe yang dibentuk pada tahun lalu oleh anggota parlemen terpilih untuk menantang junta Myanmar mengatakan bahwa sekitar 287 anak di bawah 18 tahun telah ditahan sejak 1 Februari 2021 lalu. Sebagian telah ditahan di pusat penahanan kantor polisi dan beberapa di penjara.
Lebih lanjut, Naw Susanna Hla Hla Soe mengatakan ada sekitar 80 anak berusia 12 tahun yang ditahan selama 36 jam di sebuah biara Buddha di Kotapraja Yinmabin di wilayah Sagaing, menurut laporan media lokal bulan Februari lalu. Daerah itu sendiri diketahui menjadi sasaran militer karena mencari anggota perlawanan bersenjata.
Selain itu, menurut Naw Susanna Hla Hla Soe, keberadaan anak-anak yang dibawa oleh militer sejak kudeta sebagian besar tidak diketahui. Hal ini disampaikannya merujuk pada penahanan Dr Htar Htar Lin selaku mantan kepala program vaksinasi COVID-19 Myanmar yang dibawa oleh militer sejak Juni 2021 lalu, bersama dengan suami, putranya yang berusia 7 tahun, dan juga anjing peliharaannya.
Adapun alasan dibalik penangkapan Dr Htar Htar Lin diduga lantaran ia telah mengembalikan dana sebesar USD94.580 (Rp1,3 miliar) ke PBB, mencegah disita oleh militer. Hingga kini, lokasinya belum juga diketahui.
"(Anak-anak) tidak melakukan kesalahan, tetapi militer mencoba menangkap aktivis dan juga anggota NLD dan aktivis politik," ujar Naw Susanna Hla Hla Soe dalam keterangannya, dilansir Selasa (22/3).
"Ketika mereka tidak dapat menemukan orang-orang, mereka menangkap anak-anak sebagai tebusan. Mereka juga meminta aktivis datang dan ditangkap agar anak ini bisa dibebaskan," lanjutnya.
Atas penangkapan anak-anak, Naw Susanna Hla Hla Soe mengatakan banyak orangtua yang menghadapi pilihan mustahil, ketakutan, atau kerabat yang lebih tua bisa dibunuh apabila mereka maju melawan militer.
"Begitu banyak orang tua adalah orang yang patah hati. Anak-anak ditangkap tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka harus melarikan diri," papar Naw Susanna Hla Hla Soe.
(wk/tiar)