Desas-desus yang ada menyatakan bahwa putra mantan PM adalah bagian dari geng yakuza setelah dia ditangkap di AS bulan ini karena dicurigai menyelundupkan narkoba dan senjata.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 18 April 2022 - 16:06 WIB
WowKeren - Pemerintah Thailand akhirnya buka suara untuk meluruskan rumor yang beredar tentang anak mantan perdana menteri yang mencuat baru-baru ini. Desas-desus yang ada menyatakan bahwa putra mantan PM adalah bagian dari geng yakuza setelah dia ditangkap di AS bulan ini karena dicurigai menyelundupkan narkoba dan senjata.
Kementerian Pertahanan Thailand menegaskan bahwa itu tak lebih dari berita palsu. Menurut Voice of America, anggota geng ditangkap karena memperdagangkan heroin dan metamfetamin ketika mencoba memperoleh rudal darat-ke-udara untuk kelompok pemberontak di Myanmar dan Sri Lanka.
Desas-desus yang telah menyebar mengatakan bahwa satu orang yang ditangkap, Suksan Chulanan, adalah putra mantan PM Jenderal Surayud Chulanont. Surayud pernah menjabat sebagai PM Thailand dan kepala pemerintahan sementara Thailand antara 2006 dan 2008. Saat in dia menjabat sebagai Penasihat Raja Vajiralongkorn.
Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan jika Suksan bukan anak Surayud atau tentara. Kemenhan juga menegaskan bahwa Surayud tidak memiliki hubungan dengan orang yang ditangkap, yang disebut Suksan tersebut. Juru bicaranya, Jenderal Kongcheep Tantravanich, juga mengklaim bahwa berita palsu sekarang tersebar luas untuk mencemarkan nama baik kementerian.
"Suksan, yang memiliki kewarganegaraan Thailand dan Amerika, bukanlah seorang tentara dan tidak pernah menjadi seorang tentara," kata Kemenhan. Geng itu terdiri dari warga negara Thailand, serta warga negara Jepang.
Sementara itu, Suksan adalah warga negara ganda Thailand-Amerika. Dia ditangkap awal bulan ini atas dugaan perdagangan narkoba dan senjata serta pencucian uang.
Suksan, dan tiga pria lainnya yang ditangkap, memang telah diselidiki oleh agen Administrasi Penegakan Narkoba AS di Thailand sejak 2019. Tahun itu, mereka berusaha menjual heroin dan metamfetamin dalam jumlah besar kepada agen rahasia dari kelompok pemberontak Myanmar.
Geng itu dipimpin oleh seorang berkewarganegaraan Jepang Takeshi Ebizawa. Departemen Kehakiman AS mengatakan Ebizawa adalah pemimpin sindikat kejahatan terorganisir transnasional yakuza.
(wk/zodi)