Krisis Makin Parah, Sri Lanka Tutup Sekolah dan Kantor Pemerintah Imbas Kurangnya Bahan Bakar
Unsplash/Philipp Kämmerer
Dunia

Pengumuman itu menyatakan jika dari sekitar satu juta pegawai pemerintah, mereka yang bekerja pada layanan penting akan terus melapor untuk bertugas di kantor mereka.

WowKeren - Pihak berwenang Sri Lanka pada Jumat (17/6) telah mengumumkan penutupan selama dua minggu untuk sekolah dan kantor pemerintahan. Langkah itu diambil karena kurangnya dolar untuk membayar bahan bakar impor.

Pengumuman itu disampaikan oleh Kementerian Administrasi Publik dan Dalam Negeri untuk semua kecuali pekerja yang paling penting. "Dengan mempertimbangkan batasan pasokan bahan bakar yang ketat, sistem transportasi umum yang lemah, dan sulitnya menggunakan kendaraan pribadi, surat edaran ini memungkinkan staf minimal untuk masuk kerja mulai Senin," kata kementerian itu.

Sebagaimana diketahui, Sri Lanka telah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak memperoleh kemerdekaan pada tahun 1948. Negara itu tidak mampu membiayai impor kebutuhan seperti makanan, obat-obatan dan bahan bakar sejak akhir tahun lalu.


Persediaan bahan bakar di Sri Lanka diperkirakan akan habis dalam hitungan hari. Oleh sebab itu, negara ini mencari devisa untuk membayar impor bensin dan solar yang sangat dibutuhkan. Manajemen pemerintahan yang kurang tepat ditambah dengan pandemi COVID-19 telah menyebabkan negara itu ke dalam krisis ekonomi terdalam sejak mendapat kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Pengumuman itu menyatakan jika dari sekitar satu juta pegawai pemerintah, mereka yang bekerja pada layanan penting seperti perawatan kesehatan akan terus melapor untuk bertugas di kantor mereka. Kementerian Pendidikan juga telah meminta sekolah untuk memastikan pengajaran online jika siswa dan guru memiliki akses listrik.

Sebelumnya, pemerintah Sri Lanka juga telah memotong hari kerja selama seminggu menjadi hanya empat hari kerja bagi sektor publik untuk membantu mereka mengatasi kekurangan bahan bakar kronis dan mendorong mereka untuk menanam pangan.

Sri Lanka telah menghadapi rekor inflasi tinggi dan pemadaman listrik yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu pecahnya protes berbulan-bulan, terkadang disertai kekerasan yang mendesak Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk mundur. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe memperingatkan sebanyak 5 juta warga Sri Lanka dapat terkena dampak langsung kekurangan pangan dalam beberapa bulan mendatang.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait