100 Orang Lebih Tewas Dalam Serangan Mematikan di Ethiopia, Kelompok Pemberontak Ini Disalahkan
UNECA/Daniel Getachaw
Dunia

Serangan mematikan terjadi di Ethiopia hingga disebut menewaskan lebih dari seratus orang. Bahkan, ada saksi mata yang menyebut 200 orang lebih yang tewas dalam serangan tersebut.

WowKeren - 100 orang lebih dikabarkan tewas dalam serangan di wilayah Oromia, Ethiopia, menurut keterangan dari saksi mata. Sebagian besar korban berasal dari etnis Amhara. kelompok pemberontak, Tentara Pembebasan Oromo (OLA) pun dicurigai sebagai dalam dari salah satu serangan paling mematikan dalam ingatan itu.

Namun, dua saksi lainnya mengatakan ada lebih dari 200 orang tewas. Pemerintah daerah di Oromia mengkonfirmasi serangan itu tetapi tidak memberikan rincian tentang jumlah korban. Sementara pemerintah pusat di Addis Ababa tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

“Saya telah menghitung 230 mayat. Saya khawatir ini adalah serangan paling mematikan terhadap warga sipil yang pernah kita lihat dalam hidup kita,” Abdul-Seid Tahir, seorang penduduk daerah Gimbi, mengatakan kepada kantor berita The Associated Press setelah lolos dari serangan pada hari Sabtu (18/6) itu.

“Kami mengubur mereka di kuburan massal, dan kami masih mengumpulkan mayat. Unit tentara federal sekarang telah tiba, tetapi kami khawatir serangan itu dapat berlanjut jika mereka pergi," tambahnya.

Saksi lain, yang hanya memberikan nama depannya, Shambel, karena khawatir akan keselamatannya, mengatakan bahwa komunitas Amhara setempat sekarang mati-matian berusaha untuk dipindahkan ke tempat lain, "sebelum putaran pembunuhan massal terjadi". Dia mengatakan etnis Amhara yang menetap di daerah itu sekitar 30 tahun yang lalu dalam program pemukiman kembali sekarang "dibunuh seperti ayam".

“Seluruh keluarga saya terbunuh. Tidak ada yang selamat. Saya mendengar sekitar 300 mayat ditemukan sejauh ini. Tetapi pengumpulan mayat belum dimulai di dua desa sehingga bisa jauh lebih tinggi,” ungkap saksi Abdu Hassen, yang tinggal di dekatnya kepada kantor berita DPA melalui telepon.


Sebelumnya, Perdana Menteri Abiy Ahmed telah mengutuk apa yang dia gambarkan sebagai "tindakan mengerikan" di Oromiya, tanpa memberikan rincian. “Serangan terhadap warga sipil tak berdosa dan perusakan mata pencaharian oleh pasukan ilegal dan tidak teratur tidak dapat diterima,” katanya di Twitter.

Serangan itu terjadi saat perselisihan etnis mengancam untuk memecah negara terpadat kedua di Afrika itu. Pertempuran yang meletus pada tahun 2020 di wilayah Tigray utara meluas ke wilayah tetangga Afar dan Amhara tahun lalu.

Para saksi serta pemerintah daerah Oromia menyalahkan OLA atas serangan tersebut. Dalam sebuah pernyataan, pemerintah daerah mengatakan pemberontak menyerang "setelah tidak mampu melawan operasi yang diluncurkan oleh pasukan keamanan (federal)".

sementara Juru bicara OLA, Odaa Tarbii membantah tuduhan itu. Ia mengklaim dalam sebuah tweet bahwa pemerintah Abiy sekali lagi menyalahkan OLA atas kejahatan yang telah dilakukannya sendiri.

“Serangan yang Anda maksudkan dilakukan oleh militer rezim dan milisi lokal saat mereka mundur dari kamp mereka di Gimbi setelah serangan kami baru-baru ini,” katanya dalam sebuah pesan kepada AP.

“Mereka melarikan diri ke daerah bernama Tole, di mana mereka menyerang penduduk setempat dan menghancurkan properti mereka sebagai pembalasan atas dukungan yang mereka rasakan untuk OLA. Pejuang kami bahkan belum mencapai daerah itu ketika serangan terjadi,” pungkasnya.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait