Gugatan yang diajukan di negara bagian Delaware, Amerika Serikat, itu mendesak pengadilan untuk memerintahkan Musk menyelesaikan kesepakatannya untuk membeli Twitter.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 13 Juli 2022 - 10:35 WIB
WowKeren - Twitter menggugat Elon Musk pada Selasa (12/7) karena melanggar kontrak senilai USD 44 miliar atau sekitar Rp 658 triliun yang ia tandatangani untuk membeli platform media sosial tersebut. Twitter menyebut strategi keluarnya Musk dari kontrak tersebut merupakan "model kemunafikan".
Gugatan yang diajukan di negara bagian Delaware, Amerika Serikat, itu mendesak pengadilan memerintahkan Musk menyelesaikan kesepakatannya untuk membeli Twitter. Musk dituduh telah melakukan "serangan publik dan menyesatkan" pada perusahaan.
"Musk menandatangani perjanjian merger yang mengikat dengan Twitter, berjanji untuk menggunakan upaya terbaiknya untuk menyelesaikan kesepakatan," demikian kutipan gugatan itu. "Sekarang, kurang dari tiga bulan kemudian, Musk menolak untuk menghormati kewajibannya kepada Twitter dan pemegang sahamnya karena kesepakatan yang dia tandatangani tidak lagi melayani kepentingan pribadinya."
Karena kesepakatan itu termasuk ketentuan yang disebut "klausul kinerja spesifik", pengadilan dapat memaksa Musk untuk membeli perusahaan selama dia memiliki pembiayaan. Musk sendiri sempat mengklaim bahwa dana untuk membeli Twitter telah diamankan pada bulan Mei.
Lebih lanjut, gugatan tersebut juga merinci bagaimana Musk menawarkan untuk membeli Twitter dengan harga yang relatif tinggi dan mundur setelah kemerosotan pasar menyebabkan penurunan saham teknologi. Agar berhasil lolos dari kesepakatan tanpa penalti, Musk harus membuktikan "efek merugikan material" atau pelanggaran kontrak.
Oleh sebab itu, Musk dinilai mulai fokus pada masalah "bot spam" di Twitter. Perusahaan mengklaim akun spam terdiri kurang dari 5 persen dari lebih dari 200 juta pengguna Twitter. Namun Musk bersikeras bahwa jumlahnya lebih tinggi dan menuduh Twitter menahan informasi tentang masalah tersebut.
"Perilaku Musk hanya menegaskan bahwa dia ingin melarikan diri dari kontrak mengikat yang dia tandatangani secara bebas, dan untuk merusak Twitter dalam prosesnya," jelasnya. "Twitter telah menderita dan akan terus menderita kerugian yang tidak dapat diperbaiki sebagai akibat dari pelanggaran para tergugat."
Sebagai informasi, Musk mencabut kesepakatan dengan Twitter pekan lalu. Pihak Musk menuduh Twitter membuat pernyataan "menyesatkan" tentang jumlah akun palsu. Analis mengatakan upaya Musk keluar dari pembelian menempatkan Twitter dalam keadaan rentan di masa depan.
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak pengumuman pencabutan kesepakatan, Musk mengunggah sejumlah cuitan yang diduga mengejek Twitter. "Mereka bilang saya tidak bisa membeli Twitter. Lalu mereka tidak mau mengungkapkan info bot. Sekarang mereka ingin memaksa saya membeli Twitter di pengadilan. Sekarang mereka harus mengungkapkan info bot di pengadilan," demikian isi meme yang diunggah Musk, Senin (11/7).
(wk/Bert)