Ukraina Langsung Putus Hubungan Diplomatik Usai Korut Akui Wilayah Separatis yang Didukung Rusia
Unsplash/noah eleazar
Dunia

Korea Utara merupakan negara ketiga di dunia, setelah Rusia dan Syria, yang mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk. Hal tersebut membuat Ukraina memutuskan hubungan diplomatik dengan Pyongyang.

WowKeren - Korea Utara secara resmi mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk yang memproklamirkan diri di Ukraina timur. Kedua wilayah tersebut diketahui didukung oleh Rusia.

Keputusan Korut tersebut lantas dikecam oleh Ukraina. Hal tersebut juga membuat Ukraina memutuskan hubungan diplomatik dengan Pyongyang.

"Kami menganggap keputusan ini sebagai upaya Pyongyang untuk merusak kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina serta Piagam PBB," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Ukraina di situs web-nya.

Korut merupakan negara ketiga di dunia, setelah Rusia dan Syria, yang mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk. Kantor berita pemerintah Korut melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Choe Son-hui telah mengirim surat kepada "rekannya" di Donetsk dan Luhansk, sehingga ia mengakui daerah yang dikuasai pemberontak tersebut. Choe menyatakan keinginan untuk mengembangkan "hubungan antar negara" dengan wilayah tersebut dalam gagasan kemerdekaan, perdamaian dan persahabatan.


Sebelumnya, Kedutaan Besar Republik Rakyat Donetsk (DPR) di Moskow mengunggah foto upacara penyerahan sertifikat pengakuan di Telegram. Dalam foto tersebut, Duta Besar Korut untuk Moskow, Sin Hong Chol, tampak menyerahkan sertifikat pengakuan kepada utusan DPR Olga Makeyeva.

Sementara itu, Pemimpin DPR, Denis Pushilin, mengatakan dia berharap untuk "kerja sama yang bermanfaat" dan meningkatkan perdagangan dengan Korut. Adapun Rusia telah mengakui kemerdekaan DPR serta Republik Rakyat Luhansk (LPR) pada 24 Februari 2022 lalu, bersamaan dengan malam invasi mereka ke Ukraina.

Kremlin menyebut serangannya ke Ukraina sebagai "operasi militer khusus". Mereka membenarkan langkah tersebut dengan mengatakan bahwa serangan itu dilakukan untuk melindungi penutur bahasa Rusia yang tinggal di wilayah Donbas dari "genosida".

Di sisi lain, Korut memang telah berusaha untuk memperdalam hubungan dengan Rusia dan Tiongkok. Mengingat negosiasi Korut dengan Amerika Serikat mengenai denuklirisasi dan keringanan sanksi telah terhenti selama lebih dari dua tahun.

Korut sebelumnya menyatakan dukungan untuk aneksasi Rusia atas Krimea pada tahun 2014. Korut juga menekankan hubungan dekatnya dengan Rusia dan menyalahkan konflik di Ukraina pada "kebijakan hegemonik" AS dan negara-negara barat lainnya.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait