Dewan Pendidikan Metropolitan Tokyo merilis hasil studi yang mengungkap ada 284 siswi yang terhalang untuk bisa lolos seleksi masuk SMA. Hal itu terkait sistem kuota untuk laki-laki dan perempuan di sekolah Tokyo.
- Amelia Nur Fatimah
- Kamis, 14 Juli 2022 - 21:25 WIB
WowKeren - Lewat studi analisis yang dirilis Dewan Pendidikan Metropolitan Tokyo pada Rabu (13/7), terungkap bahwa 284 siswa perempuan tidak lulus ujian masuk SMA umum di Tokyo karena kuota gender. Hasil yang dipublikasikan mengatakan para siswi itu akan lulus jika saja penerimaan tidak dibatasi oleh jenis kelamin.
Diketahui bahwa banyak sekolah menengah umum co-edukasi di Tokyo memiliki sistem kuota untuk siswa laki-laki atau perempuan, tidak seperti daerah lain di Jepang. Dewan pendidikan di ibu kota Jepang itu pun kini sedang bekerja untuk menghapus sistem kuota tersebut.
Melansir Asahi Shimbun, dalam ujian musim semi ini, dewan mengambil langkah-langkah yang menuntut sekolah harus menentukan 10 persen dari pendaftaran siswa berdasarkan nilai mereka, bukan berdasarkan jenis kelamin. Namun, temuan menunjukkan bahwa banyak siswa masih terpengaruh oleh jenis kelamin mereka.
Dewan memeriksa 109 sekolah yang memiliki kuota dari 168 sekolah menengah umum penuh waktu di Tokyo. itu mendaftarkan pelamar tahun ini di setiap sekolah berdasarkan nilai mereka dan membandingkannya dengan mereka yang lulus ujian.
Hasilnya menunjukkan 284 siswa perempuan di 23 sekolah dan 15 siswa laki-laki di lima sekolah bisa saja lulus ujian. Hasil di 81 sekolah lainnya tidak terpengaruh. Jumlah terbesar ada di Sekolah Menengah Mukogaoka di Distrik Bunkyo Tokyo, di mana lebih dari 30 siswa perempuan sebenarnya bisa saja terdaftar.
Kesenjangan terbesar adalah di SMA Nihonbashi di Daerah Sumida dan SMA Matsubara di Lingkungan Setagaya, di mana peserta ujian perempuan mencetak 59 poin lebih tinggi daripada laki-laki.
Dewan juga membandingkan nilai kelulusan minimum berdasarkan jenis kelamin di setiap sekolah. Dewan mengatakan akan mempertimbangkan bagaimana menghapus kuota mengingat temuan ini tetapi tidak menentukan kapan mereka akan benar-benar dihapuskan.
Di Jepang yang merupakan negara maju, persoalan kesetaraan gender tampaknya masih jadi salah satu isu yang belum teratasi dengan baik. Tak jarang gender jadi permasalahan yang menghambat atau menghalangi kehidupan sehari-hari. Mulai dari pendidikan hingga pekerjaan.
(wk/amel)