Setelah kehilangan dukungan dari mitra koalisinya, PM Italia Mario Draghi menyatakan akan mengundurkan diri. Akan tetapi, keinginannya ini tampaknya ditolak oleh Presiden Sergio Mattarella.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 15 Juli 2022 - 10:24 WIB
WowKeren - Perdana Menteri (PM) Italia Mario Draghi dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis (14/7), menyatakan bahwa ia akan mengundurkan diri setelah kehilangan dukungan dari mitra koalisi pemerintah populis Bintang Lima. Akan tetapi, niatnya ini rupanya ditolak oleh sang Presiden Sergio Mattarella.
"Saya ingin mengumumkan bahwa malam ini saya akan mengajukan pengunduran diri saya kepada presiden republik," ujar Draghi dalam pernyataannya pada Kamis malam, dilansir melalui UPI, Jumat (15/7).
"Pemungutan suara parlemen hari ini adalah fakta yang sangat signifikan secara politis. Mayoritas persatuan nasional, yang mendukung pemerintah ini sejak awal, tidak ada lagi," lanjut Draghi. "Pakta kepercayaan yang menjadi dasar tindakan pemerintah ini telah dibatalkan."
Melansir UPI, Five Star diketahui menolak untuk mendukung paket bantuan ekonomi pemerintah senilai USD23 miliar (setara Rp345,2 triliun) untuk bisnis dan keluarga, memicu krisis ekonomi bagi Italia. Draghi sendiri merupakan mantan Kepala Bank Sentral Eropa, yang telah memimpin koalisi pemerintah persatuan sejak Februari 2021.
Sementara itu, pemerintah diketahui memang memenangkan mosi tidak percaya di hari yang sama di Senat, namun Draghi juga telah memperingatkan bahwa tanpa dukungan Five Star, pemerintah tidak dapat berdiri.
Sementara Pemimpin Five Star, Giuseppe Conte mengindikasikan bahwa pihaknya bersedia untuk terus berbicara dengan Draghi dan mengatakan kelompok itu "tersedia untuk berdialog dan memberikan kontribusi kepada pemerintah."
Di sisi lain, Presiden Mattarella dan para pemimpin lainnya di parlemen ingin menyatukan koalisi pemerintah saat ini, setidaknya sampai pemilihan yang dijadwalkan awal 2023, demi kebaikan bangsa.
Sedangkan Pemimpin Partai Demokrat Italia, Enrico Letta, melalui Twitter mengatakan bahwa negara tersebut memiliki waktu lima hari, sebelum pidato Draghi ke parlemen untuk melihat apakah mereka dapat menarik pemerintah mereka keluar dari "kejatuhan" yang tampaknya akan terjadi.
Di samping itu, Mattarella disebut akan kembali mengundang Draghi ke parlemen pada pekan depan. Selama 17 bulan, Draghi disebut telah menjadi kekuatan pemersatu yang langka dalam politik Italia, dengan memimpin dukungan lebar dari kiri ke kanan.
(wk/tiar)