Di masa lalu, sistem sekolah asrama tersebut didanai oleh pemerintah Kanada dan dikelola gereja dengan tujuan untuk mengasimilasi anak-anak pribumi ke dalam budaya Eropa mainstream secara paksa.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 26 Juli 2022 - 18:17 WIB
WowKeren - Paus Fransiskus meminta maaf atas "kesalahan besar" dan "kejahatan" yang pernah dilakukan sekolah-sekolah asrama di bawah naungan gereja di Kanada. Di masa lalu, sistem sekolah asrama tersebut didanai oleh pemerintah Kanada dan dikelola gereja dengan tujuan untuk mengasimilasi anak- anak pribumi ke dalam budaya Eropa mainstream secara paksa.
Dalam agenda pertamanya di Kanada pada Senin (25/7), Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke komunitas Maskwacis di provinsi Alberta. Dalam "ziarah penebusan dosa" tersebut, Paus Fransiskus meminta pengampunan dari para penyintas sistem sekolah itu.
"Saya minta maaf. Saya memohon pengampunan, khususnya, atas cara-cara di mana banyak anggota gereja dan komunitas agama bekerja sama, paling tidak melalui ketidakpedulian mereka, dalam proyek penghancuran budaya dan asimilasi paksa yang dipromosikan oleh pemerintah saat itu, yang memuncak dalam sistem sekolah asrama," ungkap Paus Fransiskus.
Di hadapan hampir 2.000 orang penyintas sistem sekolah tersebut, Paus Fransiskus mengungkapan "kemarahan" dan "rasa malunya" atas ingatan menyakitkan tentang perlakuan terhadap anak-anak pribumi. Selain itu, Paus Fransiskus juga menyesali "mentalitas penjajahan" di balik sistem dan efek "bencana" yang ditimbulkannya terhadap generasi masyarakat adat.
"Saya dengan rendah hati memohon pengampunan atas kejahatan yang dilakukan oleh begitu banyak orang Kristen terhadap masyarakat adat," ungkapnya.
Beberapa orang dalam acara tersebut tampak mengenakan pakaian adat, ada juga yang mengenakan kemeja oranye untuk menandai warisan sistem sekolah asrama dan anak-anak yang tidak pernah pulang dari lembaga tersebut. Semua orang memperhatikan dengan seksama ketika Paus Fransiskus berbicara. Beberapa orang tampak saling bersandar satu sama lain, sedangkan beberapa orang lainnya menangis.
Setelah Paus Fransiskus selesai berbicara, Kepala Wilton Littlechild menempatkan hiasan kepala bulu pada paus saat kerumunan bersorak. Seorang wanita pribumi juga sempat menyanyikan lagu nasional Kanada sambil berlinang air mata dan menandai salah satu dari beberapa momen emosional pada hari Senin.
"Ini momen spesial bagi para penyintas," kata Phil Fontaine yang merupakan penyintas sekolah asrama dan mantan ketua nasional Majelis Bangsa- Bangsa.
Di sisi lain, agenda resmi pertama Paus Fransiskus di provinsi Alberta itu turut dihadiri oleh Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Hadir pula Gubernur Jenderal Mary Simon, Kepala Nasional Majelis Bangsa Pertama RoseAnne Archibald, dan sejumlah anggota parlemen federal Kanada.
(wk/Bert)