Juru bicara Kemenlu Tiongkok klaim Taiwan sebagai bagian dari mereka dengan pembuktian yang tak terduga. Pernyataan Jubir Kemenlu Tiongkok itu pun langsung mendapat beragam respons.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 09 Agustus 2022 - 14:37 WIB
WowKeren - Hubungan 'sengit' antara Taiwan dan Tiongkok terus belanjur. Tiongkok kekeh mengklaim Taiwan sebagai bagian dari negara mereka. Sementara Taiwan juga berkeras untuk memisahkan diri dan menjadi negara berbeda.
Tak jarang hal-hal kecil dipakai untuk menguatkan argumen masing-masing. Seperti halnya pernyataan tak terduga dari juru bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying baru-baru ini.
Selain terbiasa membela sikap negaranya di depan umum, Hua Chunying juga merupakan pengguna aktif Twitter, platform media sosial AS yang dilarang di Tiongkok. Chunying paling sering mentweet sebagai tanggapan atas komentar dari negara-negara lain di Tiongkok.
Melansir Mothership.sg, baru-baru ini, Chunying kembali ke Twitter untuk menegaskan lagi kedudukan resmi Tiongkok pada Taiwan. Dalam tweet itu, Chunying menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Tiongkok.
Chunying menyertakan dua tangkapan layar Baidu Maps yang menunjukkan area di sekitar Museum Istana Nasional di Taipei. Dalam gambar terlihat bahwa kawasan itu memiliki konsentrasi restoran yang mengkhususkan diri di Shandong dan Shanxi. Karena keberadaan restoran-restoran itu, Chunying mengatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok.
"Baidu Maps menunjukkan bahwa ada 38 restoran Shandong dumpling dan 67 restoran Shanxi noodle di Taipe. Selera tidak curang. #Taiwan selalu merupakan bagian dari Tiongkok. Anak yang telah lama hilang akan pada akhirnya akan kembali pulang," bunyi tweet tersebut.
Tweet yang ditulis oleh Chunying itu pun menuai beragam respons balasan yang malah menjatuhkan argumennya. Salah satunya oleh mantan Jubir Kemenlu AS, Morgan Ortagus.
"Ada lebih dari 8.500 restoran KFC di Tiongkok. Selera tidak curang, #Tiongkok selalu merupakan bagian dari Kentucky. Anak yang lama hilang pada akhrinya akan kembali pulang," tulis Morgan.
Makanan bukan indikator hubungan internasional. Bonnie Glaser, direktur Program Asia di lembaga American think tank German Marshall Fund Menunjukkan kesalahan dalam argumen Chunying. Ia mengatakan bahwa banyak orang Amerika menyukai makanan Tiongkok, tetapi polling menunjukkan pendapat yang semakin tidak menguntungkan terhadap Tiongkok. Membuktikan tidak relevannya penggunaan makanan sebagai argumen untuk sesuatu yang kompleks seperti sentimen politik.
(wk/amel)