Setelah sempat ribut di tahun 2016, Robby Abbas kembali dipertemukan dengan Shinta Bachir melalui acara televisi.
- Tim WowKeren
- Jumat, 06 April 2018 - 13:59 WIB
WowKeren - Robby Abbas, mantan mucikari kelas kakap, pernah menyebut nama Shinta Bachir dalam deretan "anak buahnya". Mereka bahkan sempat berseteru dan berakhir dengan menempuh jalur hukum di tahun 2016.
Kala itu, Robby melaporkan Shinta ke polisi atas dasar pencemaran nama baik. Robby bahkan mengungkap tarif Shinta yang mencapai Rp 50 juta, mengalahkan artis Amel Alvi dan Tyas Mirasih.
Ditemui di lokasi syuting acara "Pagi-Pagi Pasti Happy" pada Jumat (6/4), Robby menceritakan pertemuannya dengan Shinta. Lama tak bersua sejak kasus prostitusi yang menggemparkan publik, Robby membantah jika Shinta tidak mengenalnya.
"Bukan enggak mengenal, dia bilang dia mengenal saya. Alhamdulillah di acara program pagi ini saya dipertemukan," ujar Robby. "Sebenarnya saya sedikit frozen, kaget karena enggak menyangka Shinta bakal datang."
Robby bersyukur karena telah dipertemukan dengan Shinta. Ia akhirnya bisa mengetahui alasan kenapa Shinta sempat mengaku tidak mengenalinya.
"Tapi alhamdulillah, terima kasih sudah mempertemukan saya dengan Shinta," lanjut Robby. "Dan alhamdulillah saya sudah mendengar dari mulut Shinta langsung alasan kenapa dia tidak mengenal saya."
Robby pun mengaku jika dirinya dan Shinta sudah saling memaafkan. Meski sempat berseteru mencari siapa yang benar dan salah, Robby dan Shinta sudah berdamai dengan masa lalu.
"Sempat dia berkomentar dan ada ketegangan karena mencari siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang salah, siapa yang benar," tambah Robby. "Karena enggak ada ending-nya, tapi akhirnya kami sudah saling memaafkan, sih. Mungkin kalau dibilang lagi, kita tadinya teman baik, sekarang tetap teman baik."
Sudah lama pensiun sebagai mucikari, Robby mengaku jika masih banyak permintaan datang padanya, tak hanya dari klien tetapi juga artis itu sendiri. Menurut Robby, alasan yang paling kuat kenapa artis-artis mau memiliki side job seperti itu adalah karena kondisi keuangan dan hedonisme.
(wk/)