Keluarga Puji di Banyuwangi menolak menerima jenazahnya, begitupun juga warga di Surabaya yang tak langsung bersedia menguburkan jenazah Dita.
- Raysa Septi Anggraini
- Senin, 14 Mei 2018 - 23:36 WIB
WowKeren - Teror bom di tiga gereja Surabaya pada Minggu (13/5) masih menyisakan duka mendalam di hati publik. Apalagi teror bom tersebut memakan banyak korban jiwa dan luka yang saat ini masih dirawat di rumah sakit.
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, tiga gereja Surabaya yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Gereja Pantekosta Pusat (GPPS) menjadi korban teror bom tersebut. Aksi bom bunuh diri ini diketahui dilakukan oleh satu keluarga bernama Dita Oepriarto, istrinya Puji Kuswati, serta ketiga anak mereka.
Saat ini jenazah mereka rupanya telah dikembalikan ke pihak keluarga serta warga. Jenazah Puji sejatinya akan dimakamkan di Banyuwangi, kota asal keluarganya. Namun keluarga Puji rupanya menolah untuk memakamkan jenazahnya d Banyuwangi.
Mereka beralasan Puji sudah mengikuti suaminya dan seharunya dikuburkan di Surabaya. "Puji bukan warga Banyuwangi. Ya, seharusnya ikut dengan suaminya di Surabaya untuk dimakamkan," ujar Rusiono, salah satu anggota keluarga Puji pada Senin (14/5).
Selain itu mereka juga mengaku sudah lama tak berkomunikasi dengan Puji karena tak setuju dengan aliran yang dianutnya. Pihak keluarga Puji rupanya juga sempat tak menyetujui pernikahannya dengan Dita di masa lalu.
Karena itulah mereka menolak menerima jenazah Puji. "Alasan lain, keluarga sebelumnya tak menerima perbedaan prinsip dan pandangan mengenai aliran yang dianut," ungkap Rusiono.
Sementara itu, di Surabaya jenazah Dita juga tak langsung diterima oleh warga. Rencananya, jenazah Dita akan dimakamkan di tempat pemakaman Tembok Gede, Tembok Dukuh, Surabaya. Namun sejumlah warga setempat dikabarkan tak setuju jika jenazah Dita dikuburkan di pemakaman tersebut.
Padahal orangtua DIta merupakan penduduk lawas di Tembok Dukuh. "Saya masuk sini tahun 1990, itu keluarga Pak Dita sudah tinggal di sini," ujar Ketua RT Abdul Hamid pada Senin (14/5) malam.
Dita memang sudah tak tinggal di wilayah Tembok Dukuh dan pindah ke daerah Rungkut semenjak beberapa tahun lalu. Namun ia sempat membeli rumah di depan kediaman orangtuanya di Tembok Dukuh dan tinggal di sana selama beberapa tahun.
"Kebetulan Pak Dita terakhir tinggal di sini, kalau ndak tahun 2010, ya tahun 2011," ungkap Abdul Hamid. "Saat itu sudah punya anak dua, dia pindah ke Rungkut."
"Saya hanya dengar bisik-bisik, ada warga yang tak mau Pak Dita dimakamkan di sini," tutur Abdul Hamid. "Kalau saya pribadi hanya menjalankan amanah warga, tergantung keputusan rapat malam ini."
(wk/rays)