Ada aktivitas lain, ahli vulkanologi Surono menyatakan bahwa dirinya tak percaya letusan Gunung Anak Krakatau menyebabkan tsunami.
- Silmi Amalia Fidareni
- Jumat, 04 Januari 2019 - 10:12 WIB
WowKeren - Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu masih menyisakan duka yang mendalam. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih terus melakukan pemantauan terhadap adanya potensi tsunami susulan. BMKG sendiri beberapa waktu lalu memberikan informasi ditemukannya retakan baru di Gunung Anak Krakatau.
Ahli vulkanologi, Surono, menyatakan bahwa dirinya meragukan pernyataan BMKG soal letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami Selat Sunda. Menurutnya, Gunung Anak Krakatau masih terlampau kecil untuk menghasilkan letusan yang bisa memicu tsunami.
"Saya tidak percaya bahwa letusan anak Krakatau bisa menimbulkan tsunami, enggaklah. Ibunya iya," jelas Surono di sebuah diskusi di Rawangmangun, Jakarta Pusat pada Kamis (3/1). "Waktu itu sudah tinggi dan besar, letusan itu dahsyat sekali."
Pria yang akrab disapa Mbah Rono ini juga menyatakan bahwa pernyataan yang menyebutkan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda sebagai kriminalisasi. "Tsunami karena letusan anak Krakatau, kalau itu dituduhkan itu kriminalitas. Kriminalisasi terhadap anak Krakatau. Kecil sekali dan bahkan dapat dikesampingkan untuk mendakwa anak Krakatau meletus bisa menimbulkan tsunami," sambung Surono.
Surono menjelaskan bahwa letusan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Apalagi, gunung tersebut tergolong masih kecil dan terus membuat letusan untuk membentuk dirinya sebagai gunung yang utuh. Surono juga menegaskan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau pernah lebih besar dan tidak terjadi masalah yang berarti.
Selain itu, Surono juga memberikan sorotan terhadap pernyataan BMKG mengenai penemuan retakan baru di Gunung Anak Krakatau. Ia menjelaskan bahwa retakan tersebut juga merupakan hal biasa yang terjadi di atas gunung. Hanya saja, Surono menegaskan kepada BMKG untuk menganalisis apakah retakan tersebut menimbulkan longsor atau tidak. Hal itu karena menurutnya, aktivitas longsoran Anak Krakatau inilah yang nantinya bisa berpotensi tsunami.
Ia pun meminta BMKG untuk memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat agar tidak khawatir. "Kalau retakan ya di gunung itu wajar-wajar saja, apalagi bekas longsoran. Yang sekarang harus dipastikan retakan itu menimbulkan longsor atau enggak? kalau longsor ada tsunami atau enggak?" pungkas Surono.
(wk/silm)