Soal Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan, Migrant Care Sebut Ada Unsur Trafficking
Nasional

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ratusan mahasiswa dipaksa bekerja secara overtime dengan upah yang rendah.

WowKeren - Kasus ratusan mahasiswa Indonesia yang diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan cukup menghebohkan publik. Terkait hal ini, Migrant Care ikut memberikan tanggapan. Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan bahwa ada unsur trafficking dalam kasus tersebut.

Praktek perdagangan manusia itu dilakukan dengan modus pengiriman mahasiswa untuk magang. Praktek seperti ini menurut Anis, sudah lama ada.

“Kita melihat ini trafficking ya, tapi dengan modus pengiriman mahasiswa magang,” kata Anis saat dikonfrimasi wartawan BBC News Indonesia pada Kamis (3/1). “Sebenarnya, ini sudah lama sekali modus seperti ini.”

Alasan Anis menyebut adanya unsur perdagangan manusia berangkat dari fakta di lapangan bahwa ratusan mahasiswa dipaksa bekerja melebihi jam kerja. Dalam sehari, mereka diharuskan bekerja selama sepuluh jam dengan upah yang sangat rendah.

Selain itu, Anis semakin curiga karena ia melihat adanya unsur eksploitasi dalam prakteknya. Dalam satu minggu, mahasiswa hanya belajar di kelas selama dua hari dan empat hari sisanya harus bekerja di pabrik. Proses yang berbelit-belit serta keuntungan besar yang diperoleh oleh para oknum pelaksana membuat program magang ini diyakini Anis mengandung unsur perdagangan manusia.


”Ketiga, unsur eksploitasinya masuk, kemudian yang keempat, bahwa ada penipuan di banyak proses,” beber Anis. “Yang kelima, tentu keuntungan besar oleh para pemainnya.”

Para mahasiswa tersebut mengikuti program magang melalui pihak ketiga. Mereka diberangkatkan ke Taiwan melalui para agen. Adapun program tersebut bernama Industry-Academia Collaboration. Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan Taiwan.

Kasus ini bukanlah yang pertama kali ada. Hal serupa juga pernah terjadi di Malaysia beberapa tahun lama. Modusnya sama, yakni dengan memberikan penawaran pendidikan kepada calon korban.

Menurut Anis, kasus seperti ini terus ada karena para oknum melihat potensi untuk meraup keuntungan dengan cara trafficking. Hal ini mengingat jaringan trafficking muncul tak lepas dari adanya faktor permintaan dan penawaran.

”Itu dimanfaatkan,” tutur Anis. “Karena ini dilihat reguler, potensinya ada, jaringan trafficking itu kan melihat supply dan demand juga.”

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait