Menko Polhukam Wiranto Sebut 'Pemimpin Berengsek', BPN Prabowo-Sandiaga: Miskin Etika
Instagram/polhukamri
Nasional

BPN menilai pernyataan yang kurang beretika tersebut justru akan menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat.

WowKeren - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Jenderal TNI (Purn) Wiranto mengimbau masyarakat agar memilih secara cerdas saat gelaran Pilpres 2019 nanti. Hal tersebut disampaikan olehnya saat menghadiri apel kesiapsiagaan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di Palembang.

Dalam pidatonya, ia meminta publik agar tidak salah pilih saat Pilpres nanti. Sebab, pemimpin memainkan peran yang sangat penting untuk menentukan ke arah mana negara ini akan di bawa. Jika suatu negeri dipimpin oleh orang yang salah, maka akan berdampak pada kejatuhan bangsa itu sendiri.


"Sesuai dengan pemahaman kita, pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Pemimpin akan menentukan jatuh bangunnya suatu negara," kata Wiranto di Palembang, Senin (21/1). "Jangan pilih pemimpin berengsek. Pemimpinnya berengsek, negaranya juga berengsek. Pemimpinnya gila, negara bisa bubar."

Sontak pernyataan Wiranto tersebut mendapat kritikan. Kritikan itu salah satunya datang dari Juru Bicara Badan Pemenangan nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dahnil mengaku prihatin dengan pernyataan tersebut. Sebab, ia menilai bahwa kata-kata yang dilontarkan oleh Wiranto tersebut kurang beretika.

"Saya prihatin," kata Dahnil di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta Selatan, Selasa (22/1). "Dengan kebiasaan narasi miskin etika yang dikeluarkan oleh para pejabat publik hari ini."

Dahnil menilai bahwa pernyataan yang menurutnya miskin etika itu, bisa muncul karena didorong oleh rasa takut akan kehilangan kekuasaan. Sebab menurut Dahnil, saat ini posisi Prabowo-Sandiaga semakin kuat sebagai kubu oposisi. Sehingga, Paslon tersebut menurut Dahnil berpotensi besar untuk menggulingkan tim petahana di gelaran Pilpres 2019 nanti.

"Bisa terjadi karena semakin kuatnya oposisi," terang Dahnil. "Dan kemungkinan besar akan mengalahkan petahana sehingga yang keluar adalah kalimat-kalimat miskin etik, karena panik," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Advokasi Hukum Partai Demokrat yang juga anggota BPN, Ferdinand Hutahaean. Ferdinand menilai pernyataan semacam itu justru bisa menjadi contoh tidak baik bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak yang masih di bawah umur.

"Saya khawatir," kata Ferdinand dilansir CNN Indonesia pada Rabu (23/1). "Nanti anak-anak masa depan kita ini semua yang masih sekolah membaca ini akan menjadikan kata berengsek sebagai tren."

You can share this post!

Related Posts