Pemilik gurita bisnis sekaligus orang terkaya kedua di Indonesia versi majalah Forbes ini meninggalkan warisan kepada beberapa generasi keluarganya.
- Silmi Amalia Fidareni
- Senin, 28 Januari 2019 - 15:32 WIB
WowKeren - Kabar duka menyelimuti dunia bisnis Indonesia. Pada Sabtu (26/1) kemarin, pendiri sekaligus pemilik gurita bisnis Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja dikabarkan meninggal dunia. Bos perusahaan Sinar Mas Group ini meninggal pada usia 98 tahun lantaran faktor usia.
Sebelum meninggal, Eka Tjipta disebut sudah mewariskan bisnis-bisnisnya itu kepada para anak dan juga cucunya. Ia disebut memiliki total warisan perusahaan senilai Rp205 Triliun. Semua itu dibagi dalam enam pilar perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh Sinar Mas Group.
Dilansir dari TribunNews, Sinar Mas memiliki beberapa anak perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri atas pulp and paper, jasa keuangan, pengembang dan real estate, dan juga agribisnis serta makanan. Selain itu, Sinar Mas Group juga disebut memiliki anak perusahaan yang bekerja di bidang telekomunikasi dan juga energi serta infrastruktur.
Teguh Ganda Widjaja, anak tertua dari Eka Tjipta disebut menjalankan bisnis di bidang pulp and paper. Sementara itu, anaknya yang bernama Franky O. Widjaja memegang bisnis di bidang agribisnis dan makanan. Sementara itu, bisnis pengembang dan real estate dipegang oleh Muktar Widjaja. Untuk bisnis jasa keuangan dipegang oleh Indra Widjaja.
Tak hanya anak-anak Eka Tjipta saja, cucu-cucunya juga sudah dipercaya menjalankan gurita bisnis keluarga ini. Kendati demikian, perbedaan pendapat seringkali masih mewarnai. Namun, ada satu hal yang sudah disepakati oleh mereka. "Kalau sudah diputuskan oleh anak tertua, yang lain mengikuti, walaupun dalam diskusi ada perbedaan pendapat," terang Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas Group.
Telah memiliki triliunan aset kekayaan, Eka Tjipta ternyata harus jatuh bangun terlebih dahulu sebelum mencapai kesuksesannya. Ia datang dari keluarga yang jauh dari kata berada. Ayahnya dan bahkan dirinya pernah merasakan sedihnya usaha yang gulung tikar.
Eka Tjipta dan ibunya disebut pertama kali datang ke Indonesia menyusul sang ayah yang sudah terlebih dahulu datang pada tahun 1932. Saat itu, usianya masih mencapai 9 tahun. Latar belakang keluarganya yang terlilit hutang membuat Eka Tjipta hanya punya ijazah SD. Namun, hal itu tak mengurangi usahanya untuk bangkit.
Eka Tjipta memulai bisnisnya dengan berjualan permen dan biskuit keliling Makassar. Sukses berjualan dari pintu ke pintu, Eka Tjipta muda mulai menciptakan bisnis kembang gula dari rumahnya. Sempat tersandung masalah hingga bangkrut pada masa penjajahan Jepang, Eka Tjipta kembali bangkit berjualan makanan, bangunan, dan juga kebutuhan sehari-hari. Sayang ia kembali bangkrut pada tahun 1950 karena usahanya dirampas saat peristiwa Permesta.
Sampai akhirnya Eka Tjipta yang berusia 37 tahun pindah ke Surabaya dan membuka bisnis kebun kopi dan karet di wilayah Jember. Ia lantas mendirikan CV Sinar Mas dan membuat bisnis bubur kertas. Usahanya terus membesar hingga akhirnya dinobatkan Majalah Forbes sebagai orang terkaya kedua di Indonesia. Jatuh bangun yang dialami Eka Tjipta ini justru membuat dirinya semakin kokoh dan sukses membangun kerajaan bisnis.
(wk/silm)