Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menilai wisata halal di Bali dapat meningkatkan minat turis dari Arab.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 27 Februari 2019 - 12:24 WIB
WowKeren - Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, mencanangkan akan membuat wisata halal di Bali. Namun, rencana tersebut mendapat protes keras dari para pengusaha wisata di Pulau Dewata.
Meski demikian, rencana tersebut ternyata disambut baik oleh Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. Menurutnya, tidak ada yang salah dari pengembangan wisata halal tersebut secara hukum. Wisata halal tersebut diharap juga bisa menarik wisatawan muslim, khususnya dari kawasan Arab.
"Secara legal, seharusnya tidak perlu ada penolakan masyarakat," ujar Abdul dilansir detikcom, Rabu (27/2). "Di tengah usaha pemerintah Indonesia menggalakkan pariwisata, ide mendirikan hotel halal itu justru positif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali, khususnya wisatawan muslim."
Abdul pun menjelaskan bahwa persepsi masyarakat Arab terhadap Indonesia telah berubah sejak kunjungan Raja Salman. Oleh sebab itu, minta para wisatawan Arab harusnya dapat ditingkatkan.
"Sejak kunjungan Raja Salman ke Bali, persepsi masyarakat Arab terhadap Indonesia menjadi positif," jelas Abdul. "Dan meningkatkan minat wisatawan mancanegara dari negara-negara Arab untuk berkunjung ke Indonesia, terutama Bali."
Abdul menilai pendekatan yang dapat digunakan dalam wisata halal tersebut adalah pasar, bukan agama. Pasalnya, negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, hingga Jepang, telah menerapkan wisata halal.
"Karena potensi wisatawan Arab yang tinggi, Thailand, Jepang, Malaysia, beberapa negara lainnya sudah membuka wisata halal," terang Abdul. "Pendekatan yang dipakai harusnya pasar, bukan agama. Jadi tidak seharusnya menjadi pro dan kontra."
Salah satu hal yang ditakutkan oleh para pengusaha yang memberikan protes adalah polemik dari para turis mancanegara. Menurut para pengusaha, turis dari negara barat akan sulit menerima wisata halal.
Menanggapi hal tersebut, Abdul meyakinkan bahwa wisata halal tidak akan berdampak negatif pada jumlah wisatawan dari negara-negara barat. Pasalnya, wisata halal tidak merubah pariwisata Bali yang sudah ada.
"Tidak ada masalah. Kan tidak mengubah pariwisata yang sudah ada," jelas Abdul. "Hanya memberi opsi bagi wisatawan yang ingin menikmati kenyamanan Bali, baik secara pelayanan maupun keindahan alam."
(wk/Bert)