Gubernur Khofifah telah menyerukan jika Jawa Timur akan menggelar tes cepat massal atau rapid test serentak untuk mengantisipasi virus corona (COVID-19). Begini prioritasnya.
- Ruth Meliana
- Jumat, 27 Maret 2020 - 15:12 WIB
WowKeren - Wabah virus corona (COVID-19) di Indonesia juga terus mengalami peningkatan setiap harinya. Hingga Jumat (27/3), Indonesia telah memiliki sebanyak 893 pasien positif corona.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa telah menyatakan jika wilayahnya akan segera melakukan tes cepat massal atau rapid testserentak demi mengantisipasi virus corona. Tes massal ini akan diadakan hari ini Jumat (27/3).
Saat ini, Pemerintah Jawa Timur (Jatim) telah mendistribusikan 18.400 alat rapid test pun ke 65 rumah sakit rujukan. Selain itu, alat rapid test juga disalurkan dinas kesehatan di 38 Kabupaten/kota se Jatim.
Khofifah mengatakan dari keseluruhan alat rapid test tersebut, sebanyak 8.400 di antaranya merupakan gelontoran dari pemerintah pusat. Sedangkan 10.000 sisanya merupakan bantuan dari Yayasan Tzu Chi Buddha.
"Dari total alat rapid test yang ada di Jawa Timur, sebanyak 18.400, malam tadi yang kami bagi ke daerah ada sebanyak 16.600,” jelas Khofifah di Surabaya, Jumat (27/3). “Untuk 65 rumah sakit rujukan sebanyak 9.500, dan 7.020 untuk dinas kesehatan kabupaten/kota di Jawa Timur. Sisanya sebanyak 1.800 kita gunakan untuk bufferstock.”
Sementara itu, Mantan Menteri Sosial ini juga menjelaskan ada empat golongan prioritas untuk mendapatkan rapid test ini. Yang pertama yakni para tenaga medis dari perawat hingga para dokter.
”Prioritas pertama, adalah yang mengalami kontak erat risiko tinggi. Mereka adalah yang memiliki kontak dengan kasus konfirmasi positif Covid-19,” jelas Khofifah. “Termasuk di dalamnya adalah tenaga kesehatan, dokter, perawat dan juga yang mengantar dan membersihkan ruangan di tempat orang positif Covid-19 dirawat.”
Prioritas kedua adalah pasien yang berstatus PDP, bila pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) tidak memungkinkan dilakukan atau memerlukan waktu yang lama. Lalu prioritas ketiga adalah ODP. Terakhir adalah mereka yang memiliki kontak erat risiko rendah.
Alat rapid test itu akan dibagikan ke rumah sakit rujukan itu ditentukan secara proporsional dengan pertimbangan kebutuhan, jumlah ruang isolasi, dan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat. Jumlah pasien itu baik yang positif Covid-19, pasien dalam pengawasan (PDP) ataupun orang dengan pemantauan (ODP).
Khofifah lantas mendesak agar rumah sakit bisa sesegera mungkin melakukan rapid test usai mendapatkan pasokan. Namun, ia berpesan agar rapid test dilakukan tanpa mengumpulkan massa yang berjumlah banyak.
"Bagi rumah sakit yang sudah mendapatkan alat rapid test, maka saya minta untuk segera melakukan rapid test virus corona ini,” ujar Khofifah. “Akan tetapi penting diingat jangan sampai tesnya dilakukan secara massal dan malah membuat pusat keramaian baru. Tetap jaga jarak aman.”
(wk/lian)