Merapi Kembali Erupsi, Ahli Vulkanologi Peringatkan Bakal Sering Terjadi
Nasional
Erupsi Gunung Merapi

Gunung Merapi kembali erupsi dini hari tadi (29/3) pukul 00.15 WIB. Ahli vulkanologi Surono mengatakan bahwa hal tersebut akan sering terjadi karena pola erupsi Merapi selalu sama.

WowKeren - Gunung Merapi kembali erupsi dini hari tadi (29/3) pukul 00.15 WIB. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo 40 mm dan durasi 150 detik.

Peristiwa tersebut merupakan yang kelima kalinya dalam beberapa hari terakhir. Ahli vulkanologi Surono mengatakan sejak erupsi tahun 2010 berakhir karakternya tak berubah.

Biasanya, letusan gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini akan selalu diakhiri dengan pembentukan kubah lava. Kemudian nantinya akan terjadi guguran kubah, diikuti awan panas guguran dan ini namanya letusan tipe Merapi.

"Sebab, di mana pun gunung api berada, kalau ada sumbatan lava, lalu sumbatan itu gugur dan terjadi awan panas guguran, maka itu disebut dengan Erupsi Tipe Merapi," jelas pakar yang akrab disapa Mbah Rono, Minggu (29/3).


Surono menjelaskan pada erupsi tahun 2010, terjadi eksplosit besar-besaran pada Gunung Merapi. Dengan letusan tipe Merapi yang terjadi saat itu, isi kantong magma gunung ini, telah berkurang akibat letusan besar itu.

"Maka Gunung Merapi memerlukan waktu untuk pengisian ulang (energi), dan di akhir letusan pada 2010, tidak terjadi penyumbatan lava, sehingga sistem letusan dari Merapi ini relatif terbuka," sambungnya.

Hal ini berarti sistem letusan yang relatif terbuka ini membuat pembentukan kubah lava relatif rapuh, sehingga Gunung Merapi tidak mampu menghimpun energi yang besar. "Paling (letusan) seperti yang terjadi pada 28 Maret kemarin, dengan kolom abu setinggi 5.000 meter di atas permukaan laut, kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil," terangnya.

Lebih lanjut Surono menjelaskan karakter yang berubah dari Gunung Merapi, bukan hanya letusan saja. Akan tetapi juga tanda-tanda dari aktivitas vulkanik dari gunung api teraktif di Indonesia ini.

"Saya berharap, selama sistem (letusan) ini tidak berubah, maka letusan-letusan seperti (yang terjadi 28 Maret) ini akan sering terjadi," tutupnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts