Sempat Dituding Manipulasi, Ini Penyebab Data Kasus Covid-19 DKI dan Pusat Selalu Berbeda
Getty Images
Nasional

Pemerintah pusat dan pemprov DKI Jakarta kerap memiliki data berbeda terkait kasus Corona yang membuat masyarakat sempat bingung. Hal inilah ternyata yang menjadi penyebabnya.

WowKeren - Kabar baik terkait penanganan virus corona disampaikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Selasa (12/5) siang. Jumlah pasien sembuh mencapai rekor, yakni 426 kasus. Angka ini merupakan catatan tertinggi selama wabah virus corona.

Sebelumnya, angka penambahan pasien sembuh tertinggi pernah dicatatkan pada Sabtu (2/5). Saat itu penambahan pasien sembuh mencapai 135 orang.

Catatan positif ini tentu menjadi kabar baik bagi warga Jakarta. Terlebih, angka penambahan kematian akibat virus corona juga semakin kecil setiap harinya.

Untuk hari Selasa (12/5), penambahan kasus meninggal hanya 4 orang. Sementara kasus positif bertambah 108 orang menjadi 5.303. Namun, data yang disampaikan Pemprov DKI ini ternyata berbeda dengan yang disampaikan pemerintah pusat.

Dalam data yang dirilis oleh jubir penanganan corona, Achmad Yurianto, pertumbuhan jumlah pasien sembuh secara keseluruhan pada periode Senin (11/5) hingga Selasa (12/5) pukul 12.00 WIB adalah 182. Sementara khusus untuk Jakarta, pasien sembuh tercatat 112 orang.

Untuk angka kematian pun berbeda. Dalam data Gugus Tugas, jumlah korban meninggal di DKI ada 2 orang. Lalu, untuk kasus positif yang bertambah juga berbeda. Dalam data yang diumumkan Yuri, kasus positif di Jakarta bertambah 99 orang.

Sempat Dituding Manipulasi, Ini Penyebab Data Kasus Covid-19 DKI dan Pusat Selalu Berbeda

Sumber: BNPB


Ketika dikonfirmasi, Yuri pun menjawab singkat. "Silakan tanya ke DKI," kata dia melansir dari Kumparan, Rabu (13/5).

Ia kemudian menjelaskan, dari mana asal data yang disampaikan oleh Gugus Tugas. "Kalau data saya berdasarkan kasus yang confirm positif saja," jelasnya. Secara garis besar, data perkembangan kasus yang disampaikan Pemprov DKI dan pusat selalu berbeda.

Sempat Dituding Manipulasi, Ini Penyebab Data Kasus Covid-19 DKI dan Pusat Selalu Berbeda

Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Soal data kematian pun keduanya menerapkan cara berbeda. Pemprov DKI mencatat, pasien yang dimakamkan di Jakarta dengan protokol COVID-19 bukan hanya mereka yang positif virus corona.

Ada juga pasien dalam pemantauan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) yang meninggal sebelum hasil tes swabnya keluar. Sementara pemerintah pusat belum mencatat hal ini.

Sebelumnya, pemerintah sempat dituding telah melakukan manipulasi data pasien Corona. Namun, Yuri selaku Jubir Pemerintah RI membantah tegas tudingan tersebut.

"Pemerintah tidak berkepentingan dan tidak mendapatkan keuntungan apapun dengan memanipulasi data, sekali lagi saudara-saudara pemerintah tidak berkepentingan dan tidak mendapatkan keuntungan apapun dengan memanipulasi data," tegas Yuri saat melakukan konferensi pers di BNPB pada bulan lalu dikutip dari detiknews, Rabu (13/5).

Ia menyebut jika hal itu justru akan mengacaukan kerja keras pemerintah selama ini. "Akan merugikan dan mengacaukan kerja keras yang kita bangun bersama. Data kita bangun secara berjenjang dan berstruktur sejak tingkat desa, sejak tingkat rumah sakit, sejak tingkat dinas kota dan kabupaten yang merupakan bagian dari gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 di tingkat kota dan kabupaten," tegasnya lagi.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait