Jawa Tengah Akan Buka Sekolah Di Tanggal Ini, Begini Skema New Normal Untuk Pelajar
Reuters/Yves Herman
Nasional
Skenario New Normal COVID-19

Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Jawa Tengah telah mengungkapkan tanggal masuk sekolah. Begini penjelasan penerapan skema new normal untuk pelajar.

WowKeren - Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan skenario penerapan new normal di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Sejumlah sektor saat ini mulai menggodok skema tatanan hidup normal baru, salah satunya adalah dunia pendidikan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah menyatakan sedang mengkaji skema kegiatan belajar mengajar siswa sekolah selama pandemi. Aturan mengenai protokol kesehatan di tengah pandemi ini harus disiapkan demi melancarkan new normal di dunia pendidikan Tanah Air.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Jumeri telah menentukan kapan pelajar di Jawa Tengah kembali masuk sekolah secara perdana. Ia mengatakan siswa dan orangtua diundang ke sekolah untuk mengambil rapor pada tanggal 12 Juni 2020.

Dalam kesempatan itu, pelajar di Jawa Tengah beserta orangtua akan diberi pemahaman terkait penerapan kegiatan belajar semasa pandemi, yakni seputar protokol kesehatan. Selanjutnya, para siswa akan kembali masuk sekolah setelah libur akhir semester.

”Tanggal 12 Juni siswa dan orangtua akan menerima rapor sekaligus kita latihan implementasi sekolah new normal,” jelas Jumeri seperti dilansir dari Kompas, Jumat (29/5). “Setelah itu baru masuk libur akhir semester.”

”Setidaknya sekolah bisa simulasi pada satu hari itu ada pengalaman mengelola orang banyak, sesuai protokol kesehatan,” sambungnya. “Seperti kontrol masker, jaga jarak, menghindari kerumunan, dan lainnya.”

Penerapan new normal di sekolah-sekolah di Jateng kemungkinan akan mulai diberlakukan Juli atau seusai libur tahun ajaran baru. “Untuk new normal ini kita jalankan secara efektif mulai Juli atau habis libur tahun ajaran baru,” ujar Jumeri.

Nantinya, skema new normal di setiap sekolah akan diterapkan secara berbeda-beda sesuai dengan karakteristik masing-masing. Oleh sebab itu, Jumeri mengungkapkan pihaknya masih mengkaji alternatif yang akan diterapkan. Diantaranya adalah sistem shift atau pembagian hari terkait jadwal masuk anak-anak sekolah.

”Kondisi setiap sekolah kan berbeda-beda. Ada sekolah yang punya siswa banyak dan ada juga yang sedikit,” papar Jumeri. “Tergantung kemampuan sekolahnya. Apa mau sistem shift, atau selang-seling ganti hari nanti tergantung sekolahnya masing-masing.”

“Kami juga mempertimbangkan siswa berangkat ke sekolah. Seperti ke sekolah dengan apa?,” sambungnya. “Apakah kendaraan pribadi atau angkutan umum juga harus jadi penentuan opsi untuk mengurangi resiko penularan.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts