Direktur Utama Garuda Indonesia memberikan klarifikasi soal kabar maskapainya yang disebut memberhentikan (PHK) ratusan karyawannya. Ia membantah tegas dan menyebut ini adalah percepatan penyelesaian kontrak.
- Marina Larasati
- Jumat, 05 Juni 2020 - 17:08 WIB
WowKeren - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra membantah telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada ratusan Pilot. Katanya, percepatan penyelesaian kontrak 135 Pilot dari 1.400 yang dimiliki perseroan itu diberlakukan kepada Pilot dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT). Kendati demikian, ia tetap mengatakan jika akan memberikan sepenuhnya hak-hak para karyawan.
"Kemarin hangat soal para pekerja kontrak yang kita percepat yang banyak media disebut PHK, saya mau klarifikasi bahwa ini percepatan perjanjian kontrak kita kepada pegawai yang status kerjanya kontrak," ujarnya dalam konferensi pers virtual mengutip Liputan6, Jumat (5/6). "Kita tetap bayar gaji sampai akhir masa kontraknya."
"Kita percepat pembayarannya sedemikian rupa, sehingga kami pastikan bahwa hak-hak karyawan atau Pilot tersebut kami jalankan. Apapun yang tercantum dalam kontrak kerja kita dengan mereka kita eksekusi sesuai yang kita janjikan. Ada interpretasi terhadap hal ini," imbuhnya.
Irfan memastikan bahwa saat ini perseroan masih dapat survive dalam kondisi pandemi COVID-19, namun demikian ia menyebutkan Garuda Indonesia bukan satu-satunya di industri penerbangan yang mengalami kondisi ini. Ia menyebutkan banyak juga perusahaan penerbangan yang melakukan PHK, hingga mendeklarasikan dirinya bangkrut.
"Kami pastikan Garuda tetap survive dalam kondisi ini. Garuda bukan perusahaan unik di industri ini, di negara lain banyak penerbangan yang PHK dan deklarasi bangkrut seperti Thai Airways, flag carrier di Thailand," paparnya.
Irfan menyayangkan kebangkrutan Thai Airways yang memiliki reputasi bagus. "Reputasinya bagus tapi harus bangkrut. Perusahaan di seluruh dunia banyak juga yang PHK. Sama halnya dengan yang terjadi pada Air Asia Indonesia. Situasinya sama kondisi perusahaannya sama, harus bereaksi," jelasnya.
Ia pun menegaskan bagi perseroan, PHK merupakan opsi paling akhir yang dipilih saat situasi seperti ini. "PHK opsi paling akhir. Segala macam kita lakukan untuk bisa dihindari sehingga kita berharap dukungan dari banyak pihak," tuturnya.
Adapun, saat ini Garuda Indonesia telah merumahkan 800 karyawan kontrak dan 150 pilot beberapa waktu lalu. Maskapai pelat merah ini juga terpaksa mengandangkan 70 persen pesawatnya di tengah minimnya permintaan untuk penerbangan jauh.
(wk/lara)