Ramai Masyarakat Keluhkan Tagihan PLN Meroket Kala Pandemi Corona, Erick Thohir Bilang Begini
Nasional

Banyak masyarakat yang mengaku mendapat lonjakan tagihan listrik di tengah pandemi corona. Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun buka suara.

WowKeren - Keluhan akan meroketnya tagihan listrik di tengah pandemi corona (COVID-19) bermunculan di kalangan masyarakat. Seorang warga Tangerang Selatan bahkan mengaku tagihan listrik pasca bayarnya pada bulan Mei 2020 meroket hingga 9 kali lipat dari tarif biasanya.

Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun buka suara. Menurut Erick, membengkaknya tagihan masyarakat bukan disebabkan oleh PT PLN (Persero) yang menaikkkan tarifnya, melainkan karena konsumsi listrik masyarakat di masa pandemi corona meningkat.

"Yang tadinya (tagihan listrik) bulanan, karena kemarin ada COVID, tidak tertagihkan. Baru tertagihkan pada bulan yang bisa ditagihkan, padahal itu tagihan berapa bulan jadi satu," jelas Erick pada Jumat (12/6) hari ini. "Memang kita biasa kalau enggak ditagih lupa, pas ditagih marah, padahal kita enggak lihat breakdown-nya."

Lebih lanjut, Erick menjelaskan bahwa PLN telah memberikan keringanan untuk masyarakat yang tagihannya membengkak. "Tapi apa pun kemarin PLN sudah buat pengumuman bisa dicicil, memang ya namanya juga bulanan," ungkap Erick.


Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini juga telah memberikan penjelasan mengenai pembengkakan tagihan listrik masyarakat di tengah pandemi corona. Senada dengan Erick, Zulkifli menegaskan bahwa PLN sama sekali tidak menaikkan tagihan listrik di bulan Mei.

Menurut Zulkifli, mahalnya tagihan listrik dinilainya akibat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selama pandemi. Salah satunya adalah dengan bekerja di rumah (work from home) sehingga otomatis penggunaan listrik semakin bertambah.

"Tarif listrik kami pastikan tidak naik karena ditentukan pemerintah, PLN tida bisa turunkan tarif listrik per kWh," beber Zulkifli pada Rabu (3/6) pekan lalu. "Yang terjadi adalah penggunaan lisrik yang berubah karena WFH salah satunya."

Melalui penghitungan rata-rata tiga bulan terakhir, artinya tagihan di bulan April adalah rata-rata dari konsumsi listrik Januari, Februari, dan Maret. Hal ini justru membuat seolah-olah tagihan di bulan April adalah konsumsi listrik sebelum adanya pandemi corona, padahal sudah mulai ada peningkatan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait