Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, memaparkan bahwa hingga Jumat (12/6) hari ini sudah ada 478.953 spesimen yang telah dilakukan tes COVID-19.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 12 Juni 2020 - 23:50 WIB
WowKeren - Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, menyampaikan bahwa pemerintah telah menggencarkan pemeriksaan virus corona secara masif. Yuri lantas membandingkan tingginya jumlah uji spesimen yang dilakukan di DKI Jakarta dengan negara tetangga lainnya.
"Kita lihat bahwa per 1 juta penduduk di DKI Jakarta pemeriksaan sudah dilakukan sebanyak 17.954 orang," tutur Yuri dalam konferensi pers di Graha BNPB pada Jumat (12/6) hari ini. "Artinya angka ini sebenarnya tidak kemudian mengesankan bahwa kita tidak menangani dengan baik."
Lebih lanjut, Yuri menyebut bahwa jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam. Yuri menyampaikan bahwa Korsel melakukan tes COVID-19 kepada 20.810 orang per 1 juta penduduk.
Sementara itu, Malaysia melakukan tes COVID-19 kepada 19.120 orang per 1 juta penduduk. Adapun Vietnam melakukan tes COVID-19 kepada 2.827 orang per 1 juta penduduk.
Lebih lanjut, Yuri memaparkan bahwa hingga Jumat (12/6) hari ini sudah ada 478.953 spesimen yang telah dilakukan tes COVID-19. Pada hari ini saja, jumlah spesimen yang diperiksa telah mendapat tambahan sebanyak 15.333.
"Tentunya kita bisa melihat bahwa kalau dihitung jumlah orang yang dites, kalau kita menghitung seluruh angka nasional memang per satu juta penduduk sedikit nilainya," jelas Yuri. "Namun, kita pahami bersama bahwa tiap-tiap daerah tentunya memiliki ancaman epidemologi yang berbeda."
Yuri menyebut bahwa setiap wilayah memiliki ancaman epidemiologinya masing-masing. "Kita tahu bahwa negara kita ini adalah negara kepulauan, lebih dari 17 ribu pulau yang diantarai oleh selat dan laut, tentunya ini jadi barier terkait risiko ancaman pandemi," tutur Yuri.
Penanganan COVID-19 sendiri disebut dapat terlihat di wilayah yang memiliki ancaman epidemiolog tinggi seperti Ibu Kota. Meski demikian, Yuri mengaku bahwa pemerintah tetap menghitung potensi ancaman COVID-19 di beberapa daerah yang memiliki karakteristik yang sama dengan DKI Jakarta.
"Misalnya Surabaya, Makassar, dan sebagainya," pungkas Yuri. "Ini adalah gambaran bahwa kita telah bersungguh- sungguh dalam melakukan pemeriksaan ini."
(wk/Bert)