Gubernur Jabar Ridwan Kamil tak ingin buru-buru mengizinkan dibukanya kembali aktivitas di sekolah dan pesantren. Mengingat kasus Corona berpotensi meningkat pasca sekolah dibuka lagi.
- Lailatul Maghfiroh
- Sabtu, 13 Juni 2020 - 18:35 WIB
WowKeren - Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga saat ini belum memutuskan membuka kembali kegiatan pendidikan di sekolah, pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyatakan pembukaan kembali kegiatan sekolah belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini.
Belajar dari kejadian di negara Korea Selatan dan Prancis, pria yang akrab disapa kang Emil ini enggan terburu-buru mengizinkan dibukanya lagi kegiatan pendidikan di sekolah. Mengingat di negara-negara tersebut terjadi peningkatan kasus corona setelah sekolah kembali dibuka.
"Pendidikan belum dibuka karena kita sedang mengukur sekuat-kuatnya agar tidak ada masalah. Di Prancis, Korea Selatan, di Israel terjadi klaster pendidikan pada saat lockdown dibuka," kata Emil mengutip dari CNNIndonesia, Sabtu (13/6). "Ini menjadi pelajaran, kami tidak ingin terburu-buru membuka institusi pendidikan."
Emil kemudian meminta kepada pengurus lembaga yang mengelola dunia pendidikan agar berhati-hati dalam proses pembukaan aktivitas. Ia juga meminta pondok pesantren mengajukan surat permohonan kepada gugus tugas Covid-19 di kabupaten/kota masing-masing apabila hendak kembali beraktivitas seperti sebelumnya.
Emil inngin ada komitmen dalam penerapan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan di lingkungan pendidikan. "Termasuk pesantren, kebijakannya adalah sementara pesantren yang diizinkan hanya yang di zona biru dan zona hijau. Kedua, murid yang dari luar Jawa Barat belum diizinkan dulu karena menjaga keterkendalian warga Jawa Barat yang sudah baik," ujar Emil.
Menurut Emil, selama ini koordinasi dan komunikasi antara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar dengan tokoh agama atau ulama berlangsung intens. Pihaknya selalu mengambil keputusan dengan tanpa melupakan sudut pandang dari tokoh-tokoh agama.
"Tidak lain dan tidak bukan karena kami selalu mendengar masukan ulama, masukan orang-orang yang faham, ilmuwan kesehatan, ilmuwan ekonomi," pungkas Emil. "Kami sebagai gubernur enggak pernah mengambil keputusan sendiri tanpa pandangan dari para ahli, para tokoh-tokoh dan lain sebagainya khususnya para ulama."
(wk/lail)