Masih Pakai PSBB Transisi, Ini yang Ditakutkan DKI Jakarta Jika Istilah 'New Normal' Digunakan
Pixabay
Nasional
Skenario New Normal COVID-19

Penggunaan istilah PSBB transisi alih-alih new normal ini memiliki alasan tersendiri. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

WowKeren - Pemerintah Indonesia sempat mempromosikan istilah new normal yang merujuk pada tatanan hidup baru di tengah pandemi corona. Meski demikian, istilah tersebut tidak digunakan di sejumlah daerah.

Beberapa di antaranya adalah Jawa Barat yang menggunakan istilah adaptasi kehidupan baru (AKB). Lalu ada juga DKI Jakarta yang tetap menggunakan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan penambahan kata transisi.

Penggunaan istilah PSBB transisi alih-alih new normal ini memiliki alasan tersendiri. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

"Kenapa kami menyebutnya PSBB transisi? Kami belum berani menyebut kenormalan baru atau new normal karena menurut kami, kata normal dapat berpotensi pemahaman di masyarakat seolah- olah kita sudah aman. Seolah-olah sudah hilang virusnya, seolah-olah sudah bebas dan lain sebagainya," ungkap Riza dalam diskusi pada Sabtu (4/7). "Jadi kami memikirkan lebih baik menggunakan kata lain. Kami akhirnya memutuskan perlu kata lain itu kami menyebutnya masa transisi menuju masyarakat sehat aman dan produktif."


Dengan penggunaan kata PSBB ini, masyarakat DKI diharapkan tetap waspada dan hati-hati. Protokol kesehatan juga diharapkan tetap dijalankan untuk mencegah penularan COVID-19.

"Dan selama virus masih ada itu potensi penyebaran berbahaya dan apalagi vaksinnya belum ditemukan hingga hari ini," ujar politisi Partai Gerindra tersebut. "Dan PSBB tak kami hilangkan."

Riza lantas mengungkapkan bahwa pembatasan tetap diterapkan di masa transisi. Contohnya adalah kapasitas mal yang diatur maksimal 50 persen. Masyarakat DKI sendiri disebut tidak terburu-buru mengunjungi mal atau tempat rekreasi di kondisi yang masih PSBB.

"Tapi kami bersyukur masyarakat yang well educated itu sudah cukup memahami lebih baik, seperti di mal itu ternyata pengunjung mal tidak seperti yang diduga membeludak. Tidak terjadi ledakan, bahkan kurang dari yang disyaratkan. Dibolehkan 50 persen kita cek rata- rata 20 sampai 30 persen saja," pungkas Riza. "Jadi masyarakat sudah tahu, 'oh ini belum new normal lho'. Ternyata Jakarta belum new normal atau Jakarta belum sehat, aman produktif, Jakarta masih antara PSBB murni dan PSBB atau masa sehat aman produktif. Jadi jelas batasannya."

Hal ini disebut Riza telah menandakan bahwa masyarakat DKI menyadari pandemi virus corona yang masih mengintai. "Itu artinya masyarakat menyadari bahwa virus masih ada dan perlu hati-hati. Dan kami diberikan kesempatan bahwa tempat yang terbaik tetap berada di rumah. Jadi kami minta kalau keluar rumah cuci tangan dengan sabun, pakai masker jaga jarak dan jangan masuk dalam kerumunan," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts