Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyarankan agar Indonesia menggencarkan RT-PCR bagi PDP-ODP. Ahli epidemiologi menyetujui saran tersebut karena ini.
- Ruth Meliana
- Rabu, 15 Juli 2020 - 14:45 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan imbauan kepada Indonesia agar menggalakkan tes RT-PCR bagi pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP). Saran tersebut disambut baik oleh ahli epidemiologi Tanah Air.
”Indonesia memiliki angka kematian secara substansial tinggi pada pasien PDP dan ODP,” kata WHO seperti dilansir dari Strait Times. “Oleh karena itu, tes PCR harus diprioritaskan untuk diagnosis kasus PDP dan ODP daripada untuk tes lanjutan pada pasien yang hendak dipulangkan.”
Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Griffith Dicky Budiman mengatakan cara tersebut dinilai dapat menekan penyebaran virus corona dengan baik. Pasalnya, PDP dan ODP di Tanah Air selama ini telah menjadi penyumbang angka kematian yang cukup tinggi.
”Saya sangat sepakat (dengan WHO),” ujar Dicky seperti dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (14/7). “Artinya kita juga sekaligus bisa menghemat dan lebih memprioritaskan pada PDP dan ODP yang selama ini jadi salah satu kontributor kematian.”
Oleh sebab itu, PDP dan ODP menjadi pihak yang paling perlu diperiksa di tengah pandemi. Apalagi, mereka merupakan terduga pasien virus corona sehingga diharapkan cara tersebut dapat mendeteksi penularan lebih dini.
Menurut Dicky, saat ini salah satu indikator penting yang harus terus diawasi dan disajikan ke publik selama pandemi adalah positive rate per daerah dan nasional. Pemerintah juga diharapkan bisa konsisten dalam melakukan satu tes COVID-19 per 1.000 orang setiap minggu.
Terakhir, Dicky juga menyarankan pemeriksaan tes corona dilakukan kepada tenaga medis yang bekerja di garda depan pandemi. Ia berkaca pada jumlah kasus dan angka kematian yang dialami tenaga medis semakin meningkat.
”Saya menyarankan semua tenaga medis di tes RT-PCR dan selanjutnya diberi protokol ketat untuk mencegah penularan, termasuk penguatan jumlah dan kualitas APD-nya,” saran Dicky. “Selain itu secara berkala dilakukan tes lagi, bisa berdasar indikasi atau gejala dan surveilans.”
(wk/lian)