Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, dr Sutrisno, menyebut jumlah keseluruhan dokter yang dinyatakan positif terjangkit COVID-19 di Jatim bisa melebihi 120 orang.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 17 Juli 2020 - 11:03 WIB
WowKeren - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, dr Sutrisno, menjelaskan bahwa saat ini sudah ada lebih dari 84 doter di wilayahnya yang terinfeksi virus corona. "20 meninggal dunia," ungkap Sutrisno dilansir CNN Indonesia pada Jumat (17/7).
Meski demikian, 84 dokter yang positif COVID-19 tersebut rupanya baru sebagian saja. Pasalnya, IDI Jatim mengaku masih belum mendapat laporan keseluruhan dokter yang positif COVID-19 di Kota Surabaya.
Sutrisno menyebut jumlah keseluruhan dokter yang positif COVID-19 di Jatim bisa melebihi 120 orang. "Ini belum masuk Surabaya. Lebih 120, lebih," ujar Sutrisno.
Menurut Sutrisno, Surabaya masih belum memberikan laporan keseluruhan kepada IDI Jatim karena banyaknya rumah sakit di Kota Pahlawan tersebut. Oleh sebab itu, proses pelaporannya membutuhkan waktu yang lama.
Terkait tingginya jumlah dokter yang terpapar corona, Sutrisno menilainya sebagai cerminan dari beratnya kondisi yang tengah mereka hadapi saat ini. Ia menyebut ada rumah sakit yang terpaksa membatasi pelayanannya karena sang dokter turut terinfeksi COVID- 19.
"Artinya sekarang ini bebannya berat. Memang ada RS menghentikan pelayanan," jelas Sutrisno. "Karena memang positif dokternya."
Namun demikian, Sutrisno mengaku bahwa kondisinya sejauh ini masih dapat diatasi. Jumlah tenaga medis seperti dokter dan perawat di Jatim disebut masih mencukupi untuk melakukan penanganan.
Selain itu, Sutrisno juga menyebut bahwa proses perujukan tengah dalam proses dibenahi sehingga redistribusi pasien bisa merata. Dengan demikian, beban tenaga medis dapat dibagi dan diminimalkan.
Di sisi lain, Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Nursalam, mengungkapkan kini sudah ada 334 perawat di wilayahnya yang dinyatakan positif COVID-19. 13 orang di antaranya juga dilaporkan meninggal dunia.
Menurut Nursalam, tingginya angka perawat yang terpapar COVID-19 ini adalah dampak dari terus meningkatnya angka pasien corona. Lonjakan pasien membuat risiko penularan COVID-19 menjadi sangat tinggi.
Selain itu, Nursalam juga menyebut belum terealisasinya penataan dan pengelolaan jam kerja, beban kerja, serta kedisiplinan dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) yang belum baik juga menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi. Nursalam juga sempat menyinggung soal insentif tenaga medis yang hingga kini masih belum terealisasikan di Jatim.
"Banyak pasien yang periksa dan menjalani pelayanan di puskesmas atau rumah sakit tanpa gejala, dengan kasus bukan COVID-19. Sehingga protokol kesehatan (penggunaan APD) belum sesuai," pungkas Nursalam. "Lalu pemenuhan kebutuhan dasar termasuk kesejahteraan, termasuk insentif yang sampai sekarang belum terealisasi di Jatim."
(wk/Bert)