Sempat Dipertanyakan, Erick Thohir Pastikan Vaksin COVID-19 Bio Farma dan Sinovac Halal
Nasional
Vaksin COVID-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan jika vaksin COVID-19 Bio Farma dan Sinovac akan mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

WowKeren - Uji klinis fase III vaksin antivirus Corona yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Sinovac dari Tiongkok yang bekerja sama dengan BUMN Bio Farma kabarnya dilakukan bulan Agustus ini. Beragam pertanyaan soal vaksin ini pun muncul, termasuk terkait bagaimana status halal produk kesehatan tersebut.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun memastikan jika vaksin COVID-19 tersebut akan mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sehingga tak perlu diragukan lagi bahwa vaksin ini nanti dapat digunakan oleh seluruh masyarakat.

Erick menjelaskan bahan baku dan sistem produksi yang digunakan untuk melipatgandakan jumlah vaksin ini halal. Tak hanya vaksin Bio Farma dan Sinovac, vaksin lainnya yang diproduksi juga dipastikan memiliki standar yang sama.

"Tapi pasti untuk vaksin COVID-19 sendiri sertifikat halalnya dari MUI, tapi ini bahan baku produksinya pasti halal," kata Erick saat meninjau laboratorium dan fasilitas produksi Bio Farma, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8).


Bio Farma sudah dipercaya sampai dengan 150 negara di dunia untuk memproduksi 15 jenis vaksin yang beredar. Negara tersebut termasuk negara-negara Timur Tengah sehingga tak diragukan lagi kehalalan vaksin tersebut.

Selain itu, Bio Farma memiliki kapasitas produksi total sebanyak 2 miliar dosis per tahun. Ini menjadikan Bio Farma sebagai produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara mengalahkan Thailand dan Vietnam.

"Thailand, Vietnam punya, tapi kecil-kecil dibandingkan kita. Filipina, Singapura, Malaysia nggak punya," ujar Erick. "Jadi yang penting kita sebagai bangsa mesti bangga kalau hasilnya baik."

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan jika status halal ditentukan dalam 2 tahap. "Tentunya ada dua tahap (penentuan halal atau tidaknya vaksin)," kata Bambang yang ditemui di Jalan Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung, Rabu (29/7) lalu. "Di tahap pengembangan atau risetnya dan nanti tahap produksi."

Kendati demikian, Bambang menegaskan Bio Farma selaku perusahaan yang "mendatangkan" vaksin Sinovac itu tentu sudah mengkaji soal halal atau tidaknya produk yang bersangkutan. "Bio Farma sudah punya pengalaman panjang untuk mendapatkan status tersebut dari Dewan Syariah atau Dewan MUI," ungkapnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts