Nadiem Akan Buka Sekolah Mulai Januari 2021, Epidemiolog Beri Peringatan
Nasional

Epidemiolog langsung memberikan peringatan dan menjelaskan tantangan yang harus dihadapi setelah Mendikbud Nadiem Makarim memutuskan akan membuka sekolah tatap muka mulai tahun 2021.

WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah memberi lampu hijau untuk kembali membuka sekolah tatap muka mulai tahun 2021. Keputusan tersebut langsung mendapatkan peringatan dari ahli epidemiologi.

Seperti yang diketahui, Nadiem mengumumkan bahwa sekolah tatap muka akan mulai dibuka pada semester genap 2020/2021. Ia juga menjelaskan kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak lagi diputuskan berdasarkan zonasi risiko penyebaran virus corona, namun berdasarkan keputusan pemerintah daerah.

Menanggapi hal itu, epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman mengingatkan Nadiem untuk tidak membiarkan daerah mengambil keputusan sendiri terkait pembukaan sekolah. Menurutnya, hal tersebut justru dapat membahayakan pengendalian pandemi virus corona.

"Berbahaya untuk dilakukan tatap muka, akhirnya dipaksakan yang rugi bukan hanya siswa, guru, atau masyarakat daerah situ," kata Dicky seperti dilansir dari Kompas, Jumat (20/11). "Tapi juga secara nasional."

Dicky menilai keputusan untuk membuka kegiatan belajar mengajar di sekolah harus melibatkan semua sektor. Pasalnya jika sampai salah langkah, maka sekolah tatap muka dapat memunculkan klaster penyebaran virus corona yang semakin tidak terkendali.


Sejumlah sektor yang harus dilibatkan demi mencegah penularan COVID-19 di tengah aktivitas belajar mengajar adalah sekolah, pesantren, universitas, hingga Satuan Tugas (Satgas) COVID-19. Ia menilai selama ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah membantu menurunkan kasus virus corona. "Dengan penutupan sekolah akan membantu menurunkan kurva," ujar Dicky.

Meski demikian, Dicky juga memaparkan tantangan jika sekolah tatap muka tidak buka dan kegiatan belajar mengajar terus dilakukan secara online. Ia mengakui hal itu memang berdampak pada psikologis anak hingga remaja. Oleh sebab itu, ia menilai Nadiem seharusnya memikirkan upaya inovatif untuk meminimalisir dampak negatif agar pembelajaran tetap dapat dilakukan secara daring di tengah situasi pandemi.

"Tantangan terbesar tentu pada anak secara psikologis, terutama anak dan remaja," jelas Dicky. "Universitas maupun sekolah harus diberikan dukungan psikologi untuk menjaga kesehatan mental anak."

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo memaparkan tantangan pembukaan sekolah tatap muka hanyalah terkait penerapan protokol kesehatan COVID-19. Ia menilai penularan virus corona di sekolah dapat dicegah selama ada pengawasan pada siswa saat di perjalanan, yakni kala berangkat dan pulang sekolah.

"Padahal, di luaran risiko penularan masih tinggi?" papar Windhu. "Seharusnya pertimbangan pengaktifan kegiatan apa pun yang memungkinkan kontak antar warga, termasuk siswa sekolah, didasarkan atas kondisi epidemiologi yang menunjukkan tingkat risiko penularan COVID-19 di suatu wilayah."

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait