Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD juga mengaku bahwa aksi dan paham radikalisme akhir-akhir ini mulai kembali bermunculan di Indonesia.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 17 Desember 2020 - 16:51 WIB
WowKeren - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengaku dirinya mendapat informasi tentang sekelompok anak muda yang sengaja dilatih untuk menebar teror kepada orang penting alias VVIP (Very-Very Important Person). "Saya dapat info ada sekelompok anak-anak muda yang dilatih di suatu tempat khusus untuk meneror VVIP," tutur Mahfud pada Rabu (16/12) malam.
Namun demikian, Mahfud tidak mengungkapkan pihak VVIP mana yang terancam menjadi sasaran teror anak-anak muda tersebut. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut hanya menyatakan bahwa dirinya juga mendapat foto latihan teroris muda tersebut.
"Saya dapat foto latihannya juga, nah yang seperti ini jadi ideologi itu radikalisme yang mengarah, menghantam ideologi itu satu intoleran, dua yang lebih parah dari itu adalah teror," jelas Mahfud. "Teror itu karena paham jihadis. Paham jihad yang salah."
Lebih lanjut, Mahfud mengaku bahwa aksi dan paham radikalisme akhir-akhir ini mulai kembali bermunculan. Mahfud menilai bahwa keutuhan ideologi Indonesia saat ini memang tengah dihadapkan dengan segala bentuk radikalisme. "Jadi radikalisme sedang ada di tempat kita," terang Mahfud.
Mahfud bahkan mengungkapkan bahwa baru-baru ini pihak kepolisian telah melakukan penangkapan terhadap 23 orang teroris dari berbagai tempat. Menurut Mahfud, puluhan orang tersebut telah bersiap untuk melakukan sejumlah aksi teror, mulai dari mengebom hingga membuat kerusuhan, di berbagai tempat.
"Polisi menangkap 23 orang teroris dari berbagai tempat yang kemudian dikumpulkan di Lampung itu lalu diangkut ke Jakarta, sebanyak 23 orang itu sudah mempersiapkan kegiatan-kegiatan teror," papar Mahfud. "Mengebom, membikin kerusuhan dan sebagainya di berbagai tempat."
Di sisi lain, survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) justru menemukan bahwa potensi radikalisme pada 2020 menurun. Dalam urvei yang digelar bersama lembaga Alvara tersebut, indeks potensi radikalisme pada 2020 mencapai 14,0 (pada skala 0-100) atau turun 12,2 persen dibanding pada 2019 yang mencapai 38,4 (pada skala 0-100).
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar pun menyebutkan bahwa proses radikalisasi kini mencoba menyasar generasi milenial dan generasi Z dengan keberadaan dan kemajuan dunia digital. "Mereka tahu karena yang disasar ini anak muda, jadi bukan lagi yang tua-tua. Bagi mereka yang tua itu masa lalu, tapi masa depan mereka adalah generasi muda," kata Boy melansir Antara.
(wk/Bert)