Imbauan untuk menghindari kerumunan masih sering dilupakan oleh masyarakat. Padahal, menghindari kerumunan adalah faktor penting dalam mencegah penularan COVID-19
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 19 Desember 2020 - 14:02 WIB
WowKeren - Kasus COVID-19 di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Penambahan kasus masih terus terjadi setiap harinya. Masyarakat pun tak henti-hentinya terus diingatkan untuk menerapkan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
Namun baru-baru ini Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan pandangan yang sedikit berbeda. Ia ingin imbauan 3M ditambah satu lagi yakni menghindari kerumunan sehingga menjadi 4M.
"Saya sering komplain, mohon maaf, dengan bahasa 3M," kata Tito di Jakarta seperti dilansir Antara, Sabtu (19/12). "Saya enggak 'sreg' betul. Maunya 4M, memang harusnya 4M."
Bukan tanpa sebab, menurut Tito imbauan untuk menghindari kerumunan masih sering dilupakan oleh masyarakat. Padahal, menghindari kerumunan adalah faktor penting dalam mencegah penularan COVID-19. "Ini nih yang paling bahaya ini nih, ya kerumunan ini. Jadi, harus menghindari kerumunan," kata Tito menambahkan.
Konsep 4M ini dikatakannya sudah diterapkan di dalam lingkup Kemendagri. Setiap jajaran pegawai Kemendagri tidak lupa untuk menghindari kerumunan dalam setiap aktivitas mereka di luar rumah. Lebih jauh, ia juga menyinggung soal kerumunan massa yang kian marak terjadi akhir-akhir ini.
Terkait 4M yang diterapkan oleh Kemendagri, ia mencontohkan agenda kampanye. Jika sebelumnya agenda kampanye dilakukan dengan mengerahkan massa yang banyak maka di masa pandemi seperti sekarang ini dibatasi. Kampanye masih tetap boleh dilakukan namun hanya bisa maksimal melibatkan 50 orang saja.
Menurut Tito ketentuan ini sebenarnya tidak hanya terbatas pada kampanye saja namun juga bisa diterapkan pada kegiatan penyampaian pendapat di muka umum atau demonstrasi. Cara ini dikatakannya akan memudahkan petugas dalam melakukan tracing jika diketahui ada peserta yang positif.
"Demo yang sampai ribuan orang itu jadi 'superspreader', COVID-19 menyebarnya jadi sangat besar sekali," ungkap Tito. "Bagaimana dia mau 'contact tracing' orang yang positif, virusnya pindah-pindah ke orang-orang yang lain. Kalau menurut saya, batasi saja 50 orang."
(wk/zodi)