Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengaku belum ada temuan mutasi virus corona yang berasal dari Inggris di Indonesia. Sebelumnya, Singapura dan Malaysia telah melaporkan adanya kasus dari mutasi tersebut.
- Nidya Putri
- Sabtu, 26 Desember 2020 - 11:46 WIB
WowKeren - Temuan mutasi virus corona baru di Inggris yang menggemparkan dunia telah ditemukan di sejumlah negara di dunia. Mulai Afrika Selatan, Australia, Prancis, hingga Singapura.
Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran di Indonesia, pasalnya 2 negara yang bertetangga seperti Singapura dan Malaysia telah melaporkan kasus COVID-19 dari mutasi virus tersebut. Meski begitu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengaku belum ada temuan mutasi virus tersebut di Tanah Air.
Kendati demikian, Eijkman masih secara intensif menganalisa terhadap berbagai varian baru virus di Indonesia. "Ya kami meneliti whole genetics sudah sejak lama, tapi sampai saat ini yang sudah dianalisis belum ditemukan varian tersebut tapi kami masih akan meneliti varian virus virus baru. Masih butuh waktu," ujar Amin, Jumat (25/12).
Sejauh ini Indonesia baru meneliti 115 whole genetics virus. Sementara di Inggris, menurut Amin telah melakukan penelitian puluhan ribu genetik virus. Hal itu yang menyebabkan Inggris dan beberapa negara mengonfirmasi varian baru virus Corona dengan cepat.
Jika dibandingkan dengan dengan metode pelacakan mutasi baru dari virus COVID-19, Amin memastikan tidak ada perbedaan antara Indonesia dengan Inggris atau negara yang telah mengonfirmasi kasus mutasi COVID-19. "Sebetulnya caranya sama. Caranya dengan uji lab sequence artinya cara yang dipakai untuk mendeteksi baik yang di Inggris maupun di Australia atau Singapura itu sama persis seperti yang dilakukan di Eijkman, hanya saja mereka melakukannya lebih massif di Inggris, kalau di Indonesia baru 115 virus yang dianalisis kalau di Inggris sudah puluhan ribu," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan, mutasi baru COVID-19 yang ditemukan di Inggris sampai saat ini belum ada bukti telah menyebar di Indonesia. Meski begitu, dia mengakui pengawasan di Indonesia memang belum secanggih Inggris.
"Saat ini kita simpulkan belum ada bukti varian ini sudah ada atau menyebar di Indonesia," ujar Bambang dalam siaran YouTube BNPB, Kamis (24/12). "Kita harus waspada dengan tingkat peningkatan kasus positif dan juga infeksi makin tinggi kita harus jaga agar varian ini tidak membuat keadaan berat."
(wk/nidy)