Benarkah Varian Baru COVID-19 Tak Bisa Dideteksi PCR? Begini Kata Pakar
Wikimedia Commons
Nasional

Prof Zubairi Djoerban selaku Ketua Satgas COVID-19 IDI menegaskan bahwa varian baru virus Corona yang bermutasi di Inggris tetap bisa dideteksi dengan tes PCR. Begini penjelasannya.

WowKeren - Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro sempat menyebut virus Corona varian baru dari Inggris tak bisa dideteksi dengan tes swab PCR. Dijelaskan lebih lanjut oleh Bambang, hal ini lantaran alat PCR hanya melihat gen spike (Gen-S), yang mana malah dikaburkan oleh mutasi yang terjadi.

Namun informasi ini belakangan dibantah oleh Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban. "Ada yang bilang varian baru ini tidak bisa terdeteksi tes PCR. Itu tidak benar," ujar Zubairi lewat akun Twitter-nya, @Profesorzubairi, Jumat (25/12).

Lewat cuitannya, Zubairi menyebut tes PCR bisa mendeteksi tiga spike berbeda, yakni struktur seperti paku-paku yang menancap pada permukaan virus Corona. "Sehingga, varian baru ini masih tetap bisa dideteksi tes PCR," dilansir pada Sabtu (26/12).

Perihal tes diagnostik yang bisa kabur oleh virus hasil mutasi ini sebelumnya juga sempat disuarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Informasi awal bahwa varian tersebut dapat memengaruhi kinerja beberapa tes diagnostik," kata WHO, yang kala itu masih didasarkan pada informasi baru.


Namun rupanya seiring berjalannya waktu dan penelitian, tampaknya kekhawatiran ini tidak terbukti. Hal ini serupa dengan kecemasan publik varian baru virus Corona menyebabkan vaksin menjadi tidak efektif.

Zubairi ikut memberikan pernyataan perihal efektivitas vaksin terhadap virus Corona yang sudah bermutasi dengan kode N501Y ini. Disebutkan oleh Zubairi, alih-alih khawatir terhadap efektivitas vaksin, semestinya publik lebih mengkhawatirkan penyebaran virus lewat libur Natal dan Tahun Baru yang memicu tingginya mobilitas publik.

"Kemudian, apakah akan memengaruhi hasil dari vaksinasi? Tidak. Karena vaksinasi tidak membentuk satu respons antibodi saja," tulis Zubairi. "Yang harusnya terpengaruh adalah kebijakan kita dan keputusan orang untuk berlibur. Sekali lagi, mari perketat tali masker."

Di sisi lain beberapa negara sudah mulai mengonfirmasi temuan varian baru virus ini, termasuk yang terdekat dari Indonesia adalah Singapura. National Health Service (NHS) pun belum lama ini sudah memetakan setidaknya 7 gejala yang kerap dialami pasien terinfeksi virus jenis baru ini. Apa saja? Simak informasi selengkapnya di sini.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait