Seorang perajin terompet mengaku produknya sama sekali tidak terjual menjelang malam pergantian tahun. Padahal, ia hanya memproduksi 100 terompet dan telah menurunkan harga.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 30 Desember 2020 - 11:22 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) membuat sejumlah pemerintah daerah (Pemda) melarang adanya perayaan malam Tahun Baru 2021. Perajin terompet tahun baru merasakan dampak dari kebijakan ini.
Salah satunya adalah Sudarmo yang merupakan warga Banyumas, Jawa Tengah. Menjelang malam pergantian tahun, terompet kertas buatan Sudarmo masih menumpuk di rumahnya.
"Kalau dulu hari-hari seperti ini terompet saya sudah banyak (dijual pedagang) di jalan-jalan," tutur Sudarmo dilansir Kompas.com, Selasa (29/12). "Kalau sekarang enggak ada satu pun yang keluar (terjual)."
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah menegaskan larangan untuk menggelar perayaan di malam Tahun Baru 2021. Polda Jawa Tengah bahkan akan menindak tegas siapapun yang membunyikan petasan saat malam tahun baru 2021.
Sudarmo sendiri sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi. Kala pemerintah mengumumkan larangan perayaan Tahun Baru, Sudarmo hanya membuat 100 buah terompet dengan berbagai bentuk.
"Tapi kenyataannya (terompet) yang sudah jadi saja sampai sekarang tidak ada yang keluar," ungkapnya. "Karena katanya tidak boleh ada acara, tidak boleh ada kerumunaan."
Tak hanya itu, Sudarmo juga telah membanting harga untuk menarik pembeli. Dari harga Rp 3.500 - Rp 10.000 per buah tahun lalu menjadi hanya Rp 2.000 hingga Rp 6.500 per buah tahun ini.
Menurut Sudarmo, penurunan penjualan terompet tahun baru sebenarnya telah terjadi sejak 2017. Namun tahun ini, terompet buatannya sama sekali tidak terjual.
"Menurun sejak 2017, menurun 50 persen, setelah itu sampai 2019 itu menurun sampai 75 persen," jelas Sudarmo. "Dan di tahun ini sama sekali tidak ada pembelian."
Sudarmo sendiri telah mulai membuat terompet sejak puluhan tahun lalu. Ia mengalami masa emas penjualan pada 2014-2016, dimana Sudarmo mampu memproduksi hingga ribuan terompet.
"Saya merasakan panen penjualan terompet dengan modal Rp 5 jutaan, panennya bisa puluhan juta," pungkasnya. "Tapi sekarang akhirnya jadi gini."
Di masa pandemi corona ini, Sudarmo harus mengandalkan usaha sablon gelas demi memenuhi kabutuhan sehari-hari. Pasalanya, usaha penjualan mainan dan es yang biasa ia lakukan terpaksa berhenti lantaran sekolah diliburkan di masa pandemi.
(wk/Bert)