Izin Diprediksi Turun 2 Pekan Lagi, Menkes Siap 'Serobot' Giliran Jokowi Disuntik Vaksin Corona
YouTube/Setpres
Nasional

Menkes Budi Gunadi Sadikin memperkirakan EUA dari BPOM akan turun dalam waktu 2 pekan. Setelah izin turun, Menkes Budi mengaku akan menjadi orang pertama yang divaksin.

WowKeren - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan izin edar vaksin COVID-19 produksi Sinovac Tiongkok akan turun dalam 2 pekan. Izin edar darurat (emergency use authorization / EUA) ini akan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai landasan vaksinasi COVID-19 yang sedianya digelar Januari 2021 mendatang.

"Saya merasa tahap pertama mengenai penyediaan dan persetujuan vaksin," jelas Budi di Kantor Bio Farma, Bandung, Rabu (30/12). "Bisa kita selesaikan dalam waktu satu atau dua minggu lagi."

Jika sudah melewati tahap ini, maka vaksin bisa mulai didistribusikan ke seluruh pelosok Indonesia. Distribusi dan vaksinasi tentu akan dilaksanakan sesuai roadmap yang dipersiapkan, yakni diprioritaskan untuk para tenaga kesehatan.

Selain tenaga kesehatan, Presiden Joko Widodo sebelumnya juga sudah menegaskan siap menjadi orang pertama yang disuntik vaksin COVID-19 tersebut. Namun ternyata Menkes Budi juga bersiap "menyerobot" giliran sang presiden dengan dalih membuktikan keamanan vaksin. Pasalnya menjadi tugas menteri juga untuk memastikan keamanan kepala negara.


"Kalau Bapak Presiden disuntik, sudah pasti Menkes-nya harus disuntik duluan. Cuma yang kelihatan di media mungkin harus Presiden duluan, tidak boleh menterinya," tutur Budi lewat telekonferensi, dilansir dari Republika. "Karena kita harus menjaga keamanan Bapak Presiden. Itu adalah tugas kita."

Di sisi lain, BPOM baru akan mengeluarkan EUA apabila sudah meninjau hasil uji klinis fase III vaksin bermerk CoronaVac itu. Lantas seperti apa perkembangan uji klinis yang juga digelar di Kota Bandung itu?

Dijelaskan Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil, sejauh ini uji klinis sudah berjalan selama 5 bulan dan melibatkan 1.620 subjek dalam rentang usia 18-59 tahun. Dan selama keberjalanannya, ada beberapa efek samping yang dipantau tim riset.

"Sejauh ini efek samping yang timbul adalah reaksi lokal. Seperti nyeri pada tempat suntikan dengan intensitas mayoritas ringan," kata Kusnandi, dilansir Kompas. "Lalu pegal pada otot, mayoritas juga ringan."

BPOM sendiri juga terus berkoordinasi dengan beberapa negara yang turut menyelenggarakan uji klinis. Seperti misalnya Brasil, Turki, dan Chili. Bahkan Brasil dan Turki disebutkan telah mendapatkan hasil uji klinis.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait