Kader Demokrat Peserta KLB Sumut Ungkap Banyak Suara Hantu Pilih Moeldoko Jadi Ketum
demokrat.or.id
Nasional
Isu Kudeta Partai Demokrat

Gerald Piter, salah seorang peserta KLB Deli Serdang Sumatera Utara memberi kesaksian soal kejanggalan pelaksanaan agenda tersebut. Berikut penjabarannya selengkapnya.

WowKeren - Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara telah menetapkan struktur kepengurusan baru dengan Moeldoko sebagai Ketua Umumnya. Aksi ini pun sontak memicu amarah kubu Agus Harimurti Yudhoyono yang sudah menyerahkan hingga 5 kontainer berkas pendukung yang menyatakan bahwa KLB Deli Serdang adalah tindakan ilegal.

Salah satu yang diungkit AHY adalah perihal peserta KLB yang dianggap tidak memenuhi syarat di AD/ART Demokrat. AHY juga menuturkan bahwa peserta yang hadir di KLB Deli Serdang bukan yang memiliki hak suara untuk memilih ketum baru.

Dan perihal peserta KLB tanpa hak suara ini turut disinggung oleh Gerald Piter, salah seorang kader Demokrat yang ikut menjadi peserta KLB Deli Serdang lantaran diiming-imingi uang senilai Rp100 juta dari kubu Moeldoko. Gerald mengungkap KLB Deli Serdang rancu dari segi registrasi peserta yang kebanyakan mencantumkan nama-nama tanpa hak suara yang disahkan sebagai peserta.

"Tidak ada hak suara, tetapi disahkan, dimasukkan melengkapi administrasi sebagai pemilik suara," beber Gerald dalam video pengakuannya yang ditayangkan di DPP Demokrat, Jakarta, Senin (8/3). Ia juga mengaku sempat mengobrol dengan sesama peserta KLB Deli Serdang dan hanya mendapati 32 perwakilan DPC dari 412 peserta.

"Ini kan jadi aneh juga. Sedangkan syarat untuk memilih Ketua Umum dalam syarat Kongres Luar Biasa itu harus 2/3 dari suara sah ketua DPD, ½ Ketua DPC," kata Gerald. "Jadi 412 peserta KLB itu yang sah suaranya hanya 32 DPC."


Menurut Gerald, ada banyak "suara hantu" yang akhirnya memilih Moeldoko sebagai Ketum Demokrat versi KLB Deli Serdang. "Yang sisanya ini suara hantu. Seperti saya ini, saya tidak ada kapasitas," tutur Gerald, dikutip dari Kompas TV, Selasa (9/3).

Gerald juga mengungkap, ketika hadir di KLB, ia diharuskan menandatangani 3 surat bermeterai. Di surat pertama mencantumkan dukungan penuh kepada Moeldoko sebagai Ketum Demokrat.

"Kita ikut kongres, tiba-tiba dikasih lagi surat pernyataan kedua, dengan isinya membatalkan surat pernyataan pertama, isinya tidak mendukung Pak Moeldoko. Sudah lakukan itu tiba-tiba muncul lagi surat pernyataan mendukung penuh Pak Moeldoko," terang Gerald. "Jadi tiga kali saya tandatangan surat."

Gerald juga sempat mempertanyakan siapa yang menandatangani Kartu Tanda Anggota untuk bergabungnya Moeldoko di Demokrat. "Sekarang yang menjadi pertanyaan saya ketika ikut KLB. Ini Pak Moeldoko ditetapkan sebagai anggota atau kader Partai Demokrat pada saat KLB dan sudah mempunyai KTA. Sekarang pertanyaannya, KTA Pak Moeldoko ini siapa yang tanda tangan?" tanyanya.

Karena itulah, ia merasa perlu menolak hasil KLB Deli Serdang, mengingat banyaknya pelanggaran aturan dan hukum partai yang terjadi. "Jadi saya minta kepada Bapak Menkumham dengan hormat Pak Yasonna agar tidak mengeluarkan keabsahan (KLB Deli Serdang)," pungkas Gerald.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts