Hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dengan Tiongkok telah berlangsung selama 70 tahun. Di era kepemimpinan Presiden Jokowi, hubungan di antara keduanya menjadi semakin erat.
- Wahyu
- Selasa, 23 Maret 2021 - 11:54 WIB
WowKeren - Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok semakin menunjukkan "taringnya". Tiongkok kini semakin dipandang sebagai negara adidaya dan sedang diawasi oleh setiap negara.
Di zaman kepemimpinan Presiden Joko Widodo, hubungan antara Indonesia dengan Tiongkok semakin erat. Salah satu contoh hubungan eratnya adalah kini Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Indonesia.
Di saat perekonomian global merosot akibat pandemi COVID-19, perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok malah mengalami peningkatan. Volume peningkatan terjadi sebesar 5,4 persen pada Januari hingga November 2020, dengan capaian total US$33,1 miliar.
Pada saat diwawancarai khusus oleh tim CNN Indonesia Januari lalu, Djauhari Oratmangun selaku Duta Besar RI untuk Tiongkok membeberkan alasan hubungan Indonesia dengan Tiongkok semakin "lengket". Ia mengatakan kedekatan yang semakin erat antara Indonesia-Tiongkok dimulai pada saat merayakan 70 tahun hubungan diplomatik. Selama 70 tahun menjalin hubungan diplomatik, sudah banyak yang dicapai oleh Indonesia-Tiongkok meskipun dalam perjalanannya juga mengalami up and down.
Kemudian, Djauhari juga menyampaikan relasi kedua negara tersebut naik level pada tahun 2013. Dari yang semula hanya Strategic Partnership, relasi kedua negara kini menjadi Comprehensive Strategic Partnership.
"Pada Oktober 2013, relasi kedua negara naik level dari semula hanya Strategic Partnership menjadi Comprehensive Strategic Partnership," beber Djauhari. "Ini ibaratnya dulu kita hanya berteman, hingga kini kita bersahabat."
Djauhari mengungkapkan jika Presiden Jokowi bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping memiliki sinergi gagasan yang sama yaitu tentang Belt and Road Initiative. Menurutnya, Kedua negara telah menandatangani nota kesepakatan (MoU) terkait dengan mewujudkan sinergi gagasan kedua pemimpin tersebut.
Djauhari menjelaskan bahwa ada empat koridor ekonomi yang akan dibentuk oleh Jokowi dengan Xi Jinping. Empat koridor ekonomi ini diketahui merupakan salah satu dari sinergi visi Jokowi dan Xi Jinping.
"Terkait sinergi visi kedua pemimpin, salah satunya dengan membentuk empat koridor ekonomi yakni di Sumatera Utara sebagai bisnis ASEAN, Kalimantan Utara sebagai hubungan sektor energi dan mineral, Bali sebagai hubungan teknologi tinggi dan kreatif, termasuk wisata, dan yang terakhir adalah Sulawesi Utara sebagai hubungan Pasifik," tandas Djauhari.
(wk/wahy)