Lonjakan kasus COVID-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi sorotan banyak pihak karena diiringi dengan tingginya tingkat kematian. Lantas, apa penyebabnya?
- Eva Lestari
- Kamis, 03 Juni 2021 - 10:19 WIB
WowKeren - Lonjakan COVID-19 yang terjadi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi sorotan banyak pihak. Mirisnya, lonjakan tersebut diiringi dengan tingginya kasus kematian hingga membuat petugas kewalahan memakamkan jenazah.
Setelah kasus COVID-19 di Kudus menjadi sorotan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo angkat bicara. Ia menduga lonjakan tersebut disebabkan karena warga melakukan acara ziarah, hajatan hingga mudik lokal saat libur Lebaran beberapa waktu lalu.
"Analisisnya ya masih seputar itu. Wisata dan ziarah itu kan dari mana-mana, banyak daerah, sementara di sisi lain ada mudik dan transmisi lokal, ditambah hajatan pernikahan," kata Ganjar, dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (3/6).
Ganjar juga meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk tak segan merujuk pasien COVID-19 ke Rumah Sakit di Semarang apabila Rumah Sakit di Kudus kewalahan. Ia mengingatkan bahwa penanganan COVID-19 harus dilakukan dengan cepat untuk menekan tingkat kematian.
Ganjar memaparkan, "Begitu pasien masuk mau ke Rumah Sakit, cadangkan ambulans di depannya. Apa ini gejalanya, periksa di situ dan langsung bawa ke Semarang."
Di sisi lain, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menduga peningkatan kasus aktif COVID-19 di Kudus dipengaruhi oleh varian baru virus Corona yang mulai menyebar di Indonesia. Kendati demikian Satgas belum dapat memastikannya karena masih menunggu hasil Whole Genome Sequence (WGS) dari beberapa sampel warga di Kudus.
"Patut diduga ada varian baru, mengingat cepatnya penularan dan cepatnya bergejala," kata Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 Alexander K Ginting kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/6).
Sementara itu hingga Rabu (2/6) malam, jumlah kasus aktif COVID-19 di Kabupaten Kudus telah mencapai 1.232 kasus. Sedangkan total kumulatif kasus positif di wilayah tersebut mencapai 7.637, dengan 5.773 di antaranya dinyatakan sembuh dan 632 kasus lainnya meninggal dunia.
(wk/eval)