Satgas Sebut Lonjakan COVID-19 Berpotensi Munculkan Varian Baru
Unsplash/Vincent Ghilione
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Lonjakan kasus COVID-19 yang terus menerus terjadi, akan berpotensi menjadi mutasi varian baru. Sementara itu, Epidemiolog meminta masyarakat untuk mengurangi aktivitas yang tidak darurat.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih menyerang Indonesia, bahkan belakangan ini mengalami lonjakan yang signifikan. Terjadinya lonjakan ini terjadi usai libur lebaran 2021. Selain itu, varian Delta India yang masuk ke Indonesia juga turut menjadi faktor terjadinya lonjakan.

Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara (Jubir) Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan bahwa jika penyebaran dan penularan virusnya terus terjadi, maka akan berpotensi memunculkan mutasi baru. Hal ini dikarenakan upaya dari virus itu sendiri untuk bertahan hidup, sehingga mereka terus bermutasi.

"Karenanya, jika penularan masih terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat, maka peluang virus untuk bermutasi masih ada," tutur Wiku dalam siaran pers, Rabu (16/6).

Wiku menuturkan bahwa saat ini pemerintah tengah fokus mengatasi varian Delta India yang sudah memasuki Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), varian tersebut telah ditemukan di DKI Jakarta, Kabupaten Kudus, dan Bangkalan.


Seperti yang diketahui, varian Delta India itu lebih mudah menular dan menyebar dibanding virus Corona (COVID-19) pada umumnya. Maka dari itu, hingga saat ini pemerintah masih terus melakukan penelusuran asal kedatangan virus varian Delta India tersebut.

Sementara itu, Epidemiolog Masdalina Pane meminta agar masyarakat menghentikan sementara aktivitas di luar rumah yang tidak terlalu darurat. Hal ini dikarenakan lonjakan COVID-19 di tahun ini memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

"Virus COVID-19 yang berkembang saat ini merupakan varian delta B1617.2 yang berasal dari India," terang Masdalina di Jakarta, Rabu (16/6). "Jenis ini memiliki mutasi atau penyebaran yang lebih cepat walaupun vulensi atau keganasannya relatif lebih rendah."

Menurut Masdalina, terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini bukan dikarenakan libur lebaran 2021 atau mudik. Akan tetapi dikarenakan kegagalan pencegahan yang berakibat masuknya varian India dan Afrika Selatan ke Indonesia.

"Lonjakan ini harus disebut kebobolan karena banyak orang masuk ke Indonesia dari luar negeri dengan ketentuan karantina hanya 5 hari," tandas Masdalina. "Padahal, seharusnya 14 hari berdasarkan ketentuan masa optimum inkubasi dan ini menjadi standar organisasi kesehatan dunia (WHO)."

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts