Thailand Minta Maaf ke Warganya Gegara Vaksinasi Lambat, Berniat Gabung Skema Covax
Dunia
Pandemi Virus Corona

Nakorn Premsri dari National Vaccine Institute telah meminta maaf atas lambatnya pengadaan vaksin. Untuk itu, NVI sedang bersiap untuk pembicaraan bergabung dengan skema Covax.

WowKeren - Pemerintah Thailand telah mengatakan siap untuk memulai pembicaraan bergabung dengan Covax. Thailand menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang tidak ikut bergabung dengan skema tersebut.

Ketika mendapat kesempatan untuk bergabung tahun lalu, juru bicara pemerintah Anucha Buraphachaisri mengatakan Thailand lebih suka menandatangani kesepakatannya sendiri dengan produsen vaksin secara hukum. Adapun alasannya karena pemerintah tidak dapat mengeluarkan uang untuk vaksin di mana tidak ada bukti kemanjurannya.

Namun tampaknya upaya vaksinasi Thailand belum memberikan hasil yang maksimal. Menurut laporan Bangkok Post, Nakorn Premsri dari National Vaccine Institute telah meminta maaf atas lambatnya pengadaan vaksin.

Untuk itu, NVI sedang bersiap untuk mengadakan pembicaraan untuk bergabung dengan skema Covax. "NVI bermaksud untuk menerima vaksin dari Covax tahun depan," ujarnya.


Menurut Nakorn, NVI memang mencoba melakukan pemesanan terlebih dahulu dengan produsen vaksin pada Agustus tahun lalu, meskipun vaksin tersebut masih dalam tahap uji coba. Pembicaraan dengan AstraZeneca menghasilkan pengadaan 61 juta dosis melalui pesanan yang dilakukan pada bulan November.

Kendati demikian, proses tersebut tidak instan melainkan harus melibatkan berbagai panitia pengadaan, panel kerja, dan instansi terkait yang masing-masing memiliki suara. Nakorn mengatakan alasan di balik birokrasi tersebut adalah karena anggaran negara sedang dibelanjakan, yang membutuhkan masukan dari beberapa pihak.

"Hal ini menimbulkan perasaan publik bahwa pengadaan vaksin mungkin tidak memenuhi target. Ini semua tentang hambatan dan kendala itu. Saya minta maaf kepada publik," ujarnya. "Meskipun NVI telah mencoba melakukan semua yang dapat dilakukan, namun tetap tidak dapat menyediakan cukup vaksin untuk menanggapi situasi yang tidak terduga."

Ia menambahkan bahwa pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang baru di negaranya. Upaya pengadaan vaksin yang dilakukan harus terhambat dengan berbagai masalah yang muncul di lapangan.

"Pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang belum pernah kita alami sebelumnya," tambahnya. "Mutasi virus juga tidak terduga dan menyebar lebih cepat, semakin mengganggu upaya pengadaan vaksin."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts