BPOM menurunkan izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin Covovax yang dikembangkan oleh India. Efikasi vaksin ini pun sangat baik, mencapai kisaran 86-100 persen.
- Elvariza Opita
- Jumat, 19 November 2021 - 15:54 WIB
WowKeren - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menurunkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization / EUA) untuk vaksin COVID-19 buatan India, Covovax. Tingkat efikasi vaksin ini pun cukup tinggi, mencapai kisaran 86-90 persen lebih.
Dengan efikasi atau kemanjuran vaksin COVID-19 yang begitu tinggi tersebut, tentu patut dipahami pula apa saja efek samping yang ditimbulkan. Menurut Kepala BPOM Penny Lukito yang merujuk pada laporan uji klinis vaksin Covovax, efek samping yang ditimbulkan ternyata bersifat ringan hingga sedang.
Terdapat 6 efek samping yang awam ditemui pada penerima vaksin yang dikembangkan oleh Serum Institute of India (SII) tersebut. Berikut adalah rangkuman selengkapnya:
- Nyeri lokal: Uji klinis menunjukkan vaksin Covovax menimbulkan nyeri lokal di area suntikan dan dialami oleh 23,9-32 persen relawan
- Sakit kepala: Sebanyak 15,5-15,9 persen relawan yang menerima vaksin Covovax mengalami efek samping sakit kepala
- Kelelahan: Sekitar 8,7-17,9 persen penerima vaksin Covovax mengalami kelelahan
- Nyeri otot: Kondisi yang dikenal juga sebagai myalgia ini dialami oleh 8,5-15,5 persen orang yang menerima suntikan vaksin Covovax
- Demam: Sebanyak 3,5-14,4 persen penerima vaksin mengalami efek samping demam
- Sakit saat disentuh: Sebanyak 9,9-11,4 persen relawan yang menerima suntikan Covovax mengalami tenderness atau rasa sakit saat disentuh
Vaksin Covovax telah menjalani uji praklinis dan klinis di beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, Meksiko, Inggris, dan Afrika Selatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan Covovax memenuhi persyaratan evaluasi.
"Dari hasil evaluasi tersebut, Vaksin Covovax dapat digunakan untuk dewasa berusia 18 tahun ke atas dengan dosis 5 mikrogram/dosis. Diberikan sebanyak 2 kali dengan interval pemberian 21 hari," tutur Penny dalam keterangan persnya, dikutip pada Jumat (19/11).
Di sisi lain, Indonesia juga tengah mengembangkan 2 jenis vaksin untuk menghadapi COVID-19. Yakni Vaksin Merah Putih yang dilaporkan memasuki masa uji klinis pada Desember 2021, dan Vaksin Nusantara yang juga dibidik untuk program booster mulai tahun depan.
(wk/elva)