Rusia-Ukraina Berebut Wilayah Mariupol, Wakil PM Tegaskan Tak Akan Ada Penyerahan Diri
Dunia
Konflik Rusia dan Ukraina

Invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina hingga saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan Pasukan Rusia dan Ukraina masih terus berjuang untuk memperebutkan kota Mariupol yang terkepung.

WowKeren - Presiden Ukraina Voodymyr Zelenskyy diketahui meminta bantuan kepada Israel dalam mendorong kembali serangan Rusia di negaranya. Imbas perebutan wilayah tersebut membuat ratusan ribu penduduk tetap terperangkap di kota yang telah dikepung dan dibombardir oleh pasukan Rusia selama lebih dari dua minggu dengan sedikit makanan, air, dan listrik.

Sementara itu, pada Minggu (20/3) kemarin, pertempuran juga masih terus berlanjut. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Regional Pavlo Kyrylenko. Selain itu, para pengungsi juga banyak yang menangis dari kota yang telah hancur di Laut Azov, di mana menggambarkan bagaimana "pertempuran teradi di setiap jalan".

Menurut Dewan Mariupol, pasukan Rusia membom sebuah sekolah seni pada Sabtu (19/3), di mana ada 400 penduduk berlindung, namun jumlah korban belum diketahui. Di sisi lain, Rusia masih bersikukuh membantah menargetkan warga sipil dalam serangannya.

Sementara Zelenskyy menggambarkan pengepungan di Mariupol sebagai kejahatan perang. "Melakukan ini untuk kota yang damai adalah teror yang akan diingat selama berabad-abad," ujar Zelenskyy pada Sabtu (19/3) malam.


Dalam upaya untuk memenangkan perebutan wilayah Mariupol, Rusia bahkan telah memberi batas waktu kepada pasukan Ukraina pada pukul 05.00 waktu Moskow, di hari Senin (21/3), untuk meletakkan senjata mereka di kota pelabuhan timur Mariupol. Pihaknya juga mengancam "bencana kemanusiaan yang mengerikan" sedang berlangsung.

"Letakkan senjata Anda," tutur Kolonel Jenderal Mikhail Mizinstec selaku Direktur Pusat Manajemen Pertahanan Nasional Rusia, Minggu (20/3) dalam sebuah pengarahan. "Bencana kemanusiaan yang mengerikan telah berkembang, semua orang yang meletakkan senjata dijamin bisa keluar dari Mariupol dengan aman."

Batas waktu tersebut kemudian ditolak oleh Wakil Perdana Menteri Ukraina, Iryna Vereshcuk dengan mengatakan bahwa "tidak ada pertanyaan" untuk menyerah. Artinya bahwa Ukraina menyatakan dengan tegas menolak untuk melakukan penyerahan diri.

"Tidak ada pembicaraan tentang penyerahan diri, peletakan senjata. Kami telah memberi tahu pihak Rusia tentang ini," tegas Vereshchuk kepada berita online Ukrainska Pravda, dikutip Senin (21/3). "Daripada membuang-buang waktu untuk 8 halaman surat, buka saja koridor (kemanusiaan)."

(wk/tiar)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait