Harga Minyak Goreng Kian Mahal, Kenapa Sih Orang Indonesia Gemar Menggoreng?
Nasional

Harga minyak goreng yang hingga saat ini masih mahal itu membuat masyarakat resah, terlebih masakan Indonesia identik dengan digoreng. Maka tak heran jika masyarakat mendesak untuk menurunkan harga minyak.

WowKeren - Setelah pemerintah mencabut ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng, kini harganya di pasaran mengalami kenaikan signifikan. Seiring dengan dicabutnya aturan HET minyak goreng, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 11 Tahun 2022.

Setelah pemerintah mencabut HET, harga minyak goreng premium tersebut dijual bervariasi, mulai dari yang termurah adalah Rp24 ribu untuk kemasan satu liter. Sementara untuk kemasan 2 liter, harga minyak goreng hampir menyentuh angka Rp50 ribu.

Dengan harga minyak goreng yang mahal itu pun banyak dikeluhkan oleh masyarakat, terlebih orang Indonesia memang gemar menggoreng olahan masakan. Lantas apa yang membuat orang Indonesia gemar menggoreng?.

Dipandu oleh pakar kuliner William Wongso, media Vice pun mengulik alasan orang Indonesia yang gemar sekali menggoreng, bahkan es krim pun digoreng. Teknik memasak goreng jenis deep fry yakni saat semua bagian bahan terendam dalam minyak panas, menjadi salah satu cara memasak terpopuler.

Pasalnya, menggoreng ada cara memasak yang dinilai mudah, murah dan memuaskan untuk dilakukan. Fakta di lapangan, hampir semua dapur memiliki minyak. Selain itu, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang berdiri kokoh sebagai penghasil produk kelapa sawit terbesar di dunia membuat teknik ini semakin lestari.


Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya penjual gorengan bertebaran. Selain itu, menu makanan dengan nama belakang "goreng" pun bisa dijumpai di hampir semua restoran dan warung makan. Pasalnya, keadaan pasar mendukung sehingga memudahkan inovasi dilakukan, dan berujung pada sesuatu yang baru ditemukan, seperti brokoli goreng.

Maka dari itu, dapat diasumsikan bahwa bangsa Indonesia dengan wajan penggorengan merupakan kombinasi berkapasitas tanpa batas. Kemudian juga saling dibutuhkan untuk terus berkembang.

"Goreng-gorengan sudah jadi bagian dari makanan jalanan. Garing, crispy, lalu gurih, tapi dalamnya bisa lembut," ujar William dalam keterangannya dilihat pada Selasa (22/3). "(Rasa) ini memang digemari oleh masyarakat Asia Tenggara dan Tiongkok. Membuatnya juga mudah, tinggal nyalain api dan manasin minyak."

Lebih lanjut, William menerangkan sebelum ada industrialisasi minyak sawit, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu aktif memproduksi minyak kelapa secara rumahan. Hanya saja saat ini penggunaan minyak kelapa lebih langka karena prosesnya lebih ribet. Kalaupun membeli, harganya juga lebih mahal daripada minyak sawit.

Maka dari itu, ketika pedagang Tiongkok pertama kali datang dan memperkenalkan teknik menggoreng makanan, masyarakat Indonesia tidak membutuhkan waktu lama dalam mengakuisisinya.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait