Tiga amplop berisi tabloid 'Indonesia Barokah' ditemukan di tiga masjid di Kecamatan Cluring.
- Wahyu
- Jumat, 25 Januari 2019 - 11:44 WIB
WowKeren - Setelah Jawa Tengah, tabloid Indonesia Barokah juga menyebar hingga ke Jawa Timur, khususnya Kabupaten Banyuwangi. Bawaslu Banyuwangi menduga tabloid tersebut tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan yang dimaksud yakni Cluring, Bnayuwangi, dan Sempu.
Namun hingga saat ini, baru di Kecamatan Cluring tabloid tersebut ditemukan. Tabloid yang mengundang polemik tersebut tersebar di tiga masjid, yakni Masjid Al Huda, Masjid Roudlotutholab, dan Masjid Al-Hidayah.
Hal tersebut sudah dikonfirmasi oleh pihak Bawaslu Banyuwangi. Dari penemuan itu, Bawaslu mengamankan tiga amplop yang masing-masing berisi tiga eksemplar tabloid Indonesia Barokah.
"Masjid yang menerima kiriman adalah Masjid Nurul Huda, Masjid Roudlotutholab, dan Masjid Al-Hidayah. Seluruhnya berada di Desa Tampo, Kecamatan Cluring," kata Ketua Bawaslu Banyuwangi Hamim dilansir detikcom pada Jumat (25/1). "Ada tiga amplop, masing-masing berisi 3 eksemplar tabloid."
Begitu mendapat informasi adanya pengiriman tabloid yang disebut-sebut menyudutkan salah satu Paslon itu, Bawaslu langsung turun ke lapangan untuk mengecek kebenarannya. Pihaknya bekerja sama dengan Polsek Cluring.
Bawaslu dengan segera melakukan langkah antisipasi. Sebab, adanya tabloid tersebut dikaitkan dengan isu kampanye hitam sehingga pihak Bawaslu perlu untuk segera mengamankannya.
"Kami lakukan langkah antisipasi," pungkas Hamim. "Karena tabloid ini dikaitkan dengan isu black campaign. Tabloid langsung kita amankan untuk dikaji."
Kapolsek Cluring Iptu Bejo Madrias mengimbau masyarakat untuk tidak gegabah menerima barang apapun. Apa lagi jika barang dan pengirimnya tidak diketahui secara jelas.
"Kita sampaikan imbauan kepada masyarakat," kata Bejo dilansir detikcom pada Jumat (25/1). "Agar tidak gegabah menerima barang apapun jikalau barang itu belum jelas."
Sementara itu, pengurus Masjid Al-Hidayah, Sugik, mengaku tidak tahu-menahu soal amplop tersebut. Ia mengatakan bahwa ia tiba-tiba diberi amplop tersebut karena di situ tertulis alamat masjid Al Hidayah. Padahal, ia tidak merasa pernah memesan apapun. Amplop tersebut ia terima saat tengah menghadiri acara rapat desa.
"Kami tiba-tiba diberi amplop itu karena beralamat masjid Al-Hidayah, diberikan pada pengurus," terang Sugik. "Kami tidak pernah memesan, tahu-tahu mendapat kiriman."
(wk/wahy)