Ratusan Pemilik Stan Gelar Aksi Demo Tolak Kosongkan Hi-Tech Mall Surabaya
Nasional

Saat ini, masih ada sekitar 400 stan di Hi-Tech Mall yang menolak upaya penggusuran oleh Pemkot.

WowKeren - Pemerintah kota Surabaya berencana untuk merevitalisasi gedung Hi-Tech Mall. Mall yang menjadi pusat penjualan berbagai produk teknologi itu akan dijadikan sebagai gedung seni dan budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kota Surabaya Widodo Suryantoro mengatakan bahwa mall tersebut akan disulap menjadi tempat pertunjukan yang dilengkapi dengan teknologi canggih. "Nanti akan kami bangun tempat pertunjukan yang dilengkapi dengan teknologi canggih," kata Widodo beberapa waktu lalu.


Dalam prosesnya, upaya pengosongan mall tersebut tentu tak bisa berjalan lancar. Pasalnya, Hi-Tech Mall selama ini telah menjadi tempat bekerja bagi banyak karyawan. Sehingga, dua kepentingan tersebut saling berbenturan.

Buntutnya, ratusan pemilik toko dan stan dari Hi-Tech Mall menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Surabaya. Mereka menolak upaya pengosongan gedung yang dilakukan oleh Pemkot.

Koordinator Aksi dari Paguyuban Pedagang Surabaya Mall Sugiharto mengatakan bahwa pihaknya sudah meminta adanya audiensi dengan walikota Tri Rismaharini. Hal itu, kata Sugiharto, sudah diajukan sejak Februari. Mereka ingin agar pengosongan gedung yang rencananya dilakukan pada Maret mendatang ditiadakan.

"Sejak bulan Februari kami ingin meminta audiensi dengan walikota," kata Sugiharto di depan Balai Kota di Jalan Wali Kota Mustajab, Senin (18/2). "Tujuan kami tidak macam-macam, pada bulan tiga atau Maret tidak ada pengosongan itu aja."

Sugiharto menegaskan bahwa ia dan para pemilik stan lainnya tidak ingin pergi dari sana. Meski Pemkot melakukan upaya pengosongan, para pemilik toko dan stan tetap tidak akan pergi. Sebab, Hi-Tech Mall sudah lama menjadi tempat kerja mereka.

Bahkan menurut Sugiharto, saat ini ada sekitar 400 stan yang masih bertahan di Hi-Tech Mall. Sama seperti dirinya, mereka juga menolak untuk mengosongkan gedung tersebut.

"Kami tidak mau pergi dari sana, kalaupun ada pengosongan kami tetap tidak mau pergi," tegas Sugiharto. "Karena kami sudah lama kerja di sana."

Sugiharto bertekad akan terus bertahan di sana hingga ada perwakilan dari pihak Balai Kota. "Kami akan bertahan di sini sampai ditemui Bu Risma atau perwakilannya baik itu dari Bappeko atau bu Yayuk," pungkas Sugiharto.

You can share this post!

Related Posts
Loading...